loading...

Sajak Diatas Meja

Karya: Sabil Mukhlisin

 

“He kamu lihat Dhanu nggak? Kok dia nggak kelihatan.”

 

tanyaku kepada salah seorang temanku. Sambil mengangkat kedua bahu ia menjawab.

 

“Nggak tau aku, mungkin telat.”

 

Matahari mulai meninggi, sinarnya menyengat serta menyentuh pori-pori. Detik demi detik berlalu, angka di jam digitalku yang melekat melingkari pergelangan tangan kiri telah berganti.

 

Hingga pelajaran pertama telah usai, ia masih belum juga datang. Aku celingak-celinguk mencari sosoknya, tapi tak terlihat sama sekali. Aneh rasanya siswa serajin dia terlambat sampai jam segini.

 

Bel tanda pergantian pelajaran telah berbunyi, namun kelas masih terasa sunyi. Seolah tempat itu kehilangan pelangi yang selalu membawa keceriaan bagi penghuni tempat ini. Aku menoleh ke belakang di baris kedua paling belakang, satu-satunya yang kosong di kelas ini. Seolah bangku itu mencari yang biasa mendudukinya. 

 

Aneh rasanya, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba badai. Dia membuatku semakin risau saja.

 

Aku semakin penasaran, ada apa dengan anak ini? Aku putuskan untuk nekat mencarinya walau pelajaran masih berlangsung di kelas.

 

“eh mau kemana kamu” aku nyelonong keluar kelas dan menjawab “pipis bu urgent.”

 

Tempat yang pertama kali aku datangi adalah kamar mandi. Ternyata tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali pak Bon yang sedang membersihkan lantai lorong kamar mandi yang penuh dengan puntung rokok.

 

Aku terdiam sejenak, lalu aku putuskan lagi untuk berlari ke kantin, mungkin dia ada di sana. Setengah jalan menuju kantin, aku dicegat oleh guru laki-laki bertubuh gemuk dan sangat berwibawa.

 

“Kamu gak tau atau lupa, sekarang masih belum istirahat, ngapain kamu ke kantin?”

 

Mendengar beliau membentak seperti itu, aku terpaku dan kepalaku tertunduk. Kemudian aku ingat aku sedang mencari Dhanu, kutegakkan kepala dan berkata.

 

“Saya mau mencari Dhanu pak, mungkin dia ada di kantin.” Ucapku tegas.

 

Tiba-tiba raut muka beliau berubah, dari yang semula garang menjadi mrengut seperti ada yang ditutup-tutupi oleh beliau.

 

“Dhanu nggak masuk, sakit katanya.” tuturnya.

 

Aku ngotot, “tapi dia kemarin sama aku baik baik saja pak!"

 

“Dia sakit karena tadi katanya pulang subuh, kalau tidak percaya bisa lihat sendiri suratnya di kantor!" Balasnya sambil membentak.

 

“yaudah pak, makasih infonya.” Ucapku. Lalu ia pergi dengan tergesa-gesa.

 

Waktu istirahat pertama telah dimulai, banyak siswa-siswi yang menuju kantin, ada juga yang masih mengerjakan tugas. Namun guru yang mencegatku tadi masuk ke kelas, lantas semua kegiatan di dalam kelas berhenti sejenak dan seluruh mata memandang guru itu.

 

“Anak-anak, pak Ayub mau memberitahu kalian bahwa salah satu teman kalian ada yang mengundurkan diri dari sekolah.”

 

Sontak, ucapan itu membuat gaduh seisi kelas, mereka bertanya-tanya. Lalu salah satu siswi menyahut dengan suara cemprengnya.

 

“Siapa yang mengundurkan diri pak?”

 

Dengan nada agak menyesal pak Ayub menjawab.

 

“Satu-satunya yang tidak masuk hari ini.”

 

Ucapan itu pun seolah menusuk hatiku. Setelah dibuat bertanya-tanya, ternyata kenyataannya seperti ini.

 

Aku berjalan menuju bangku kosong itu, kutatap permukaan bangku yang penuh dengan coretan. Aku baca satu persatu coretan-coretan berbentuk sajak indah sisa peninggalan Dhanu.

 

Katanya “jika aku tak membawa buku, akan kugunakan meja ini sebagai tempat untuk menuangkan sajak-sajakku.”

 

Tak sadar air mata yang ada di dalam mataku keluar tanpa aku perintah, jatuh membasahi permukaan bangku. Aku terpana melihat salah satu sajak di bangku itu, seperti baru ditulis akhir-akhir ini.

 

Di sana tertulis, “jika nanti aku pergi, tolong ucapkan terima kasihku pada semuanya.”

 

Aku ingat, saat ia menghadiri kegiatan rabuan di komunitas literasi sehari sebelum ia pergi.

 

Malam itu, malam yang sangat indah, langit hitam pekat namun berbintang yang gemerlap menyebar dari utara hingga selatan, dari timur hingga ke barat. dia pasti sudah bilang dari awal, tapi kali ini ia terlambat dan tak bilang alasannya. Ia seperti menghilang bak ditelan bumi.

 

Aku menaruh curiga kepadanya bahkan sejak dua hari yang lalu, perilakunya sangat berbeda dari yang biasanya.

 

Dia selalu murung di kelas dan lebih sering di lorong kamar mandi untuk merokok ketimbang mengikuti pelajaran di kelas. Seolah dia bukan dia namun orang lain yang menjelma dirinya, atau jangan-jangan dia memiliki kepribadian ganda. Sumpah dia sangat berbeda, biasanya selalu ceria dan membuat orang lain tertawa serta sering kali jadi pemicu gelak tawa di kelas sehingga menjadi ramai.

 

Ku kira dia sakit atau apa, saat aku tanya kenapa? dia selalu tak menjawab, hanya menggelengkan kepala.

 

Saat kegiatan berlangsung, ia datang, namun raut wajahnya tak memancarkan keceriaan sama sekali, dan ia sepertinya tidak pulang ke rumah setelah sekolah, terlihat dari seragam yang masih melekat di tubuhnya. Ia langsung ikut nimbrung tanpa banyak bicara.

 

Hingga sesi diskusi pun, ia tak banyak bicara, aku semakin curiga dengannya. usai acara, biasanya ia masih nimbrung dan lanjut diskusi bersama teman-teman, tapi kali ini ia langsung pergi.

 

Aku yang masih menaruh curiga terhadapnya, kucoba membuntutinya, iya, karena sekarang ia menjelma sebagai sosok yang misterius dan penuh dengan kebohongan.

 

Aku mengikutinya dengan motor CB milikku dari jarak beberapa meter, menembus dinginnya malam, menyalip apa pun yang di depanku, aku memacu motorku, ia belok aku ikut belok, ia cepat aku ikut cepat, dan syukur ia nggak tau  kalau aku sedang mengikutinya.

 

Hingga sampailah dia di sebuah rumah kecil di tengah sawah. Aku tak berani lebih dekat karena tempat ini sangat jauh dari rumahku, jadi aku tetap menjaga jarak dengannya. Sepertinya itu rumah kosong, mana mungkin ada rumah di tengah sawah, di kota besar pula, bahkan sawah pun jarang.

 

Hari sudah terlewat Kamis, aku meyakinkan diriku bahwa dia tidak apa-apa, mungkin dia hanya sumpek di rumah dan pergi mencari ketenangan.

 

Suasana kelas sangat hening, tak seperti biasanya, tiada sosoknya yang menjadikan kelas ini ramai dan menyenangkan. Aku duduk di bangkunya, membaca sajak-sajak yang tertulis di meja itu. Aku merebahkan tubuhku di kursi, kupejamkan mataku, berpikir sejenak, lalu terbesit di benakku mungkin dia masih ada di rumah itu. 

 

Ku raih tasku dan berlari keluar sekolah menuju ke rumah di tengah sawah itu. Langkahku cepat menuju gerbang, aku tak peduli lima guru laki-laki berlari mengejarku, bahkan guru olahraga yang katanya mantan pelari maraton nasional masih tak bisa menyusulku hingga aku lolos keluar gerbang, beruntung tidak ada yang menjaga gerbang saat itu.

 

Roda motorku bergulir cepat, mesinnya menggerang seolah dipaksa untuk berlari, membelah angin, menyalip apa pun yang di depanku seperti Marc Marquez di MotoGP. Setelah cukup lama aku memacu motorku, sampailah di rumah tengah sawah tempat Dhanu singgah.

 

Cepat-cepat aku masuk ke dalam rumah, ternyata pintu rumah itu tak terkunci, sangat sepi dan sunyi, Aku memanggil nama Dhanu berulang ulang, namun tidak ada yang menjawab.

 

*BRAKKK!!!*

 

Tiba-tiba terdengar bunyi benda jatuh sangat keras dari sisi belakang rumah itu. Bergegas aku menuju sumber suara dan aku pun terpana.

 

Tidak mungkin, aku sempat panik dan bingung, melihat sesosok tubuh manusia yang menggantung di langit-langit rumah, tubuh itu menggeliat seperti hewan yang mau disembelih. Lalu aku meraih kakinya dan menariknya hingga simpul tali yang menjerat lehernya longgar dan lepas, aku tersungkur bersama tubuh yang sudah terkulai lemas itu.

 

Segera aku bangkit dan berusaha menyadarkan dia yang mulai kehilangan kesadaran karena otaknya kekurangan oksigen akibat jeratan tali yang melilit lehernya.

 

Ku bujurkan tubuhnya di lantai, aku menatapnya dan mulai menangis, tak pernah kusangka sebelumnya, dia berani melakukan hal seperti ini, mungkin dia depresi karena di Drop out oleh sekolah tanpa ada masalah yang jelas.

 

Tiba-tiba datang seorang pemuda, ia tinggi besar berambut gondrong dan berkulit putih. Ia terkejut melihat Dhanu tergeletak tak sadarkan diri di lantai, lalu ia menatapku tajam dan berbicara.

 

“kok apakno koncoku Sampek nggletak ngene” ia mengancam. Aku coba menenangkannya.   

                           

“Dia tadi gantung diri mas, untungnya ada saya terus saya lepasin talinya, pas saya datang dia sudah dalam posisi tergantung mas.” Aku menjelaskan dengan tergesa gesa.

 

“Lah terus kok sampai nggak sadarkan diri seperti ini, ayo bawa ke rumah sakit cepat!” Perintahnya.

 

Lalu aku dan pemuda itu menggotong tubuh Dhanu untuk dibawa ke rumah sakit. Untungnya pemuda itu bawa mobil.

 

“Mas lebokno mburi, sek tak bukakno lawange.”

 

Pemuda itu membuka pintu belakang mobil dan aku merebahkan Dhanu di dalam dengan posisi yang hati-hati.

 

“loh mas ayo kok tambah metu, melbuo mas jancok Iki” ucap pemuda itu panik.

 

“ndang budalo kok, aku numpak sepeda motor ae, sepedaku larang, Ndang digowo nek puskesmas sek ae.”

 

aku juga ikut panik, lalu ku nyalakan motorku tapi mobil itu masih belum melaju.

 

“iki loh cok tambah digowo nek puskesmas.” Tukasnya.

 

“uwes ta jancok, seng cedek sek, selak mati arek iki, wes ndang gas los rem.”

 

Lalu aku dan mobil itu melesat pergi ke puskesmas terdekat, untungnya jarak dari rumah itu dan puskesmas hanya sekitar 2 kilometer. Tak lama kemudian aku dan pemuda itu sampai di depan puskesmas.

 

Lalu mobil itu kusuruh untuk berhenti di selasar. Aku masuk ke puskesmas dan meminta bantuan perawat, lalu aku kembali ke selasar bersama dua perawat dengan membawa tandu, dengan sigap pemuda itu membopong Dhanu dan merebahkannya ditandu.

 

Kemudian kami mengikutinya dari belakang, namun saat sampai di ruang IGD, kami tidak diperbolehkan masuk hingga dokter selesai dengan tugasnya dan kami juga disuruh untuk menuju ke meja administrasi.

 

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?.”

 

Ucap seorang perawat yang sedang bertugas di bagian administrasi.

 

Aku sempat terdiam dan bingung, lalu aku coba tanyakan kepada pemuda itu.

“Mas, anu, iku mas, Iki piye bayare?”

 

“Ealah, gawe BPJS po'o!” Tukasnya ngelantur.

 

“Ngawur ae, aku jek sekolah mas, yo gak duwe BPJS.”

 

“hayoo Kon mbolos yo, tak kandakno gurumu Kon.” Guraunya, tapi aku seolah menganggap serius.

 

“Emang awakmu ero guruku?”

 

“Loh iku koncoku main neker biyen, lek kalah nangis kok ngandakno mak'e.” Kami pun tertawa bersama.

 

Terbesit di pikiranku dia sama seperti Dhanu, pandai mencairkan suasana, nggak salah dia khawatir sama Dhanu tadi.

 

Setelah mengurus proses administrasi, kami pun keluar dari puskesmas untuk mencari warkop, saat melewati selasar pemuda itu menepuk jidatnya.

 

“Jancok mobilku lali durung tak parkirno, sek mas entenono warung ngarep kono, aku tak markirno sek.”

 

Lalu ia bergegas menuju mobilnya dan memarkirkan di tempat parkir yang seharusnya, aku terus berjalan menuju warung kopi di depan puskesmas.

 

Aku tiba di warung dan memesan segelas kopi hitam plus Samsu kretek. Sembari menunggu si gondrong itu, kubuka smartphoneku dan benar saja banyak sekali yang meneleponku, baik lewat WhatsApp maupun lewat nomor pulsa.

 

Lebih dari 20 panggilan tak terjawab, memang saat itu aku sengaja mematikan HP-ku agar tidak ada yang mengganggu, tetapi yang terakhir kali telepon adalah wali kelasku, tak hanya menelepon, beliau juga mengirim pesan yang bernada mengancam.

 

Ku baca tenang pesan itu sambil menghisap rokok dan menyeruput kopi.

 

“Ernand, kalau kamu tidak kembali sampai waktu pulang sekolah, nasibmu akan sama seperti Dhanu.” Tulis beliau.

 

Aku berpikir sejenak, menelungkupkan kepalaku di atas meja warung.

 

"Apakah keluar sekolah waktu jam pelajaran berlangsung sama saja dengan berbuat serong kalau dilihat dari pelanggarannya. Sementara yang aku baca di buku penghubung, hanya skors tiga hari. Sangat aneh instansi ini, udah swasta sok-sokan pakek ngeluarin murid sak karepe dewe."

Ucapku dalam hati.

 

Aku mencoba menenangkan diri, jujur aku agak syok saat membaca pesan itu. Ku hisap lagi rokokku, dan membalas pesan beliau.

 

“Bapak Ahmad yang terhormat, saya pernah membaca sebuah novel, alur ceritanya seperti nasib Dhanu saat ini, lalu ada seseorang yang ingin membantu menyelesaikan masalah di tokoh utama. Ia pernah bilang pada si tokoh utama, keadilan tidak pernah buta.”

 

Beberapa saat kemudian, beliau membaca pesan itu, hanya membaca tidak membalas.

 

Tak lama kemudian, si gondrong itu datang juga, ia memesan es teh dan duduk di sebelahku. Di keluarkannya satu pak rokok filter dan ditawarkan kepadaku. Jelas aku tolak karena rokokku masih belum habis.

 

Ia menatapku dan membuka percakapan.

 

“mas ini temanya Dhanu kan, lalu mas tau kenapa Dhanu di keluarkan oleh sekolah?” Tanyanya penasaran.

 

“Aku nggak tau mas, mungkin berat sekali masalahnya sampai dia dikeluarkan sekolah.” Jawabku resah.

 

“oalah, ngomong-ngomong panggil aku Alerta saja.” Ucapnya memperkenalkan diri.

 

“Oh iya mas Alerta, aku Ernand.”

“Jadi begini Ernand, Dhanu itu jadi kambing hitam oleh keluarga pacarnya, jelas keluarga pacarnya sangat benci dengan Dhanu. Entah kenapa?” Tutur Alerta.

 

“Jadi, si Dhanu itu di tuduh oleh ibunya pacarnya berbuat gitu, paham kan. Lalu dilaporkan ke sekolah, dan nggak mediasi dulu dengan keluarganya Dhanu."

 

"Senin lalu, ia dipanggil BK dan dia ditanyai tentang perbuatannya. Lah saat itu mas, dia difitnah meminta gambar atau video gitu, jelas dia nggak ngaku karena dia merasa nggak bersalah dia terus dipaksa mengakui, soalnya ancamannya nggak Cuma dikeluarkan, tapi dipenjarakan juga. Karena takut, ia terpaksa mengakui walaupun sebenarnya dia nggak pernah ngelakuin itu semua. Dan sekarang ia seperti orang buangan, ia menjadi aib keluarga sekolah dan kampungnya."

 

"Jelas dia sangat tertekan, dia sudah dua kali ini melakukan percobaan bunuh diri.”

 

  Mendengar cerita dari Alerta, aku terdiam. Tak kuduga seberat ini masalahnya, bagaimana bisa Dhanu tak menceritakan itu kepadaku. Lalu Alerta menatapku dan berkata.

 

“Sekarang, aku mohon kembalilah ke sekolah, jangan kau urusi lagi Dhanu, karena ia bukan lagi Dhanu yang kau kenal. Sekarang, dia adalah seorang penulis jalanan, nama pena-Nya adalah falling star."

 

"Aku janji kepadamu, aku akan mengurusnya, dan dia juga berjanji bahwa temannya akan membaca kumpulan puisi miliknya. Dan aku Alerta kau harus janji padaku dan Dhanu, Jagalah sajak yang tertulis di mejanya. Karena dialah Dhanu yang kau kenal.”

 

Aku sempat bingung mendengar kalimat terakhir yang dituturkan Alerta.

 

“Maksudnya Al aku nggak paham yang terakhir?” Tanyaku agar aku paham kalimatnya.

 

“kata Dhanu, aku sekarang telah mati, namun aku hidup di setiap sajak-sajak yang kutulis.” Jelasnya.

 

Aku pun mulai paham setiap kata dari Alerta, sungguh menyedihkan nasib Dhanu saat ini. Tak kuasa aku menahan agar air di mataku tak jatuh, dan akhirnya jatuh juga seperti tetes hujan di kala semesta terlanda kemarau panjang.

 

Aku tau Dhanu sudah mati, yang kita antar ke puskesmas tadi bukanlah Dhanu. Tetapi si falling star. Dengan berat hati aku meminta Alerta untuk melihat Dhanu untuk terakhir kalinya. Ia pun menyanggupi permintaanku.

 

Setelah membayar yang kupesan tadi, aku dan Alerta berjalan menuju ruangan tempat Dhanu dirawat, setiap langkah seperti menyeret bola besi, meninggalkan jejak berupa air mata. Alerta hanya diam saja, ia mengerti apa yang sedang aku rasakan sekarang.

 

Alerta membuka kelambu dan melihat Dhanu, lebih tepatnya si falling star sedang berbaring di ranjang dengan mata terpejam serta alat bantu pernafasan yang masih melekat di hidungnya.

 

Air mataku jatuh lagi, dan sekarang seperti badai yang menerjang pesisir. Aku menangis tersedu-sedu, kubiarkan air mataku jatuh membasahi pipi hingga selimut yang menyelubungi tubuh si falling star.

 

Lalu Alerta memberikan sebuah amplop dan buku catatan milik Dhanu.

 

Ia menghela nafas dan berkata “Sekarang yang kau tatap bukan lagi Dhanu, dialah si falling star, simpanlah sebaik-baiknya.” Nadanya terdengar sedih.

 

Aku menatap Alerta, matanya berkaca-kaca, seolah ia sedang berjuang menahan agar air matanya tidak jatuh.

 

Ku masukkan amplop dan catatan itu ke dalam tas, lalu Alerta memelukku dan membisikkan kalimat perpisahan kepadaku.

 

“Selamat tinggal Ernand, kawan-kawan semua, bapak dan ibu guru, ayah, ibu, adikku yang sangat aku sayangi juga gadis yang pernah sepenuh hati aku cintai walau sekarang dia mengkhianati diriku. Selamat tinggal, kalian semua akan bertemu dengan ragaku lagi. Sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, Selamat tinggal, ingatlah sajak-sajakku selalu abadi.”

 

  Mendengar kalimatnya, aku sama sekali tidak paham apa yang dia ucapkan, dengan terisak-isak aku bertanya.

 

“Apa maksud perkataanmu?”

 

“Aku tidak tau, nanti juga kamu akan tau sendiri.”

 

BERSAMBUNG

0 Comments

Leave a comment