loading...

ALL OUT ROLE OF CHINA MILITARY AIR POWER IN SOUTH CHINA SEA: Superioritas Udara Untuk Menguatkan Klaim

Konflik atas Laut China Selatan merupakan bentuk kompleksitas konflik yang terjadi di era modern saat ini. China menggambarkan klaimnya di Laut China Selatan dengan "sembilan garis putus-putus" berbentuk U yang tidak jelas, di mana mencakup petak-petak zona ekonomi eksklusif atau ZEE Vietnam, Kepulauan Paracel, dan Kepulauan Spratly. Selain itu, wilayah yang klaim China tersebut juga tumpang tindih dengan ZEE Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Taiwan. Guna menguatkan klaim tersebut, China telah secara konsisten membangun kekuatannya di wilayah yang disengketakan bagi mempertahankan klaimnya. Dalam beberapa tahun terakhir, pengerahan kekuatan militer, khususnya kekuatan udara telah menjadi perhatian yang sangat menonjol, salah satunya adalah bagaimana agresivitas China dalam membangun superioritas atau penguasaan atas ruang udara di wilayah Laut China Selatan dan Asia Timur.


Dalam membangun kekuatan untuk mengamankan klaim atas Laut China Selatan dan Asia Timur, China mengerahkan militer secara masif di Kepulauan Paracel, khususnya di Pulau Woody, serta “Big Three” di Kepulauan Spratly yaitu di Fiery Cross, Mischief, dan Subi Reefs. Hal tersebut juga didukung dengan upaya China dalam terakhir, untuk mengubah pulau-pulau dan terumbu karang menjadi fasilitas dengan infrastruktur mumpuni bagi instalasi militer seperti landasan udara, hangar, instalasi radar, dan instalasi pendukung lainnya. Selain itu, China juga secara konsisten mengerahkan aset militer strategis, khususnya aset udara seperti pesawat tempur dan sistem pertahan udara jarak jauh, agar dapat beroperasi secara luas di Laut China Selatan. Kekuatan udara China sendiri berasal dari Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) dan Penerbangan Angkatan Laut PLA. PLAAF dan Penerbangan Angkatan Laut PLA merupakan salah satu matra dengan aset militer terbesar di dunia, dengan komposisi ribuan pesawat berbagai jenis seperti pesawat tempur, pesawat pengintai, dan pesawat pembom jarak jauh. Superioritas udara merupakan salah satu cara yang paling efektif secara militer untuk menguatkan klaim dan mempertahankan kendali atas wilayah yang ingin atau sudah dikuasai.


Superioritas udara adalah faktor penting dalam menentukan hasil dari perang konvensional modern. Operasi militer di darat, laut, atau di udara sangat sulit akan sangat sulit dilakukan jika belum dapat menguasai ruang udara secara maksimal. Dalam kalimat yang disampaikan Field Marshal Bernard L. Montgomery, “If we lose the war in the air, we lose the war and we lose it quickly.” Ini menunjukkan bahwa penguasaan ruang udara sangat menentukan bagaimana operasi itu berjalan, termasuk dalam hal untuk menguatkan klaim  atas suatu wilayah yang diperebutkan atau disengketakan. Menurut Richard Saunder dan Mark Souva, superioritas udara memiliki implikasi ofensif dan defensif. Secara ofensif  berarti superioritas udara memungkinkan aktor untuk meningkatkan penggunaan pesawat serang, pengawasan, pembom, dan lainnya tanpa kerugian yang signifikan. Superioritas udara juga memfasilitasi operasi senjata gabungan udara/darat, termasuk pengerahan sistem pertahanan udara. Secara defensif, aktor dengan superioritas udara, tidak perlu takut bahwa musuh akan menyerang pasukan daratnya dari udara, didasarkan pada kemampuan memobilisasi sumber daya untuk menghentikan kemajuan musuh atau dengan cepat melakukan manuver untuk memanfaatkan titik-titik lemah di garis pertempuran musuh. Superioritas udara memberikan kemampuan bagi aktor untuk memusatkan kekuatan pada area tertentu, agar dapat menghentikan potensi musuh menerobos wilayah yang dikuasainya. Dalam hal kaitannya dengan klaim China, kekuatan militer yang beroperasi di wilayah tersebut telah menunjukkan strategi pertahanan bagi membangun superioritas udara. Pengerahan armada tempur udara dan sistem senjata pertahanan udara, serta peningkatan patroli, baik maritim maupun udara juga dilakukan guna menguatkan klaim di wilayah tersebut.


Superioritas udara pertama yang dilakukan China adalah melalui pembangunan Air Defense Identification Zone (ADIZ) atau zona identifikasi pertahanan udara. Sejak meningkatnya tensi atas wilayah Laut China Selatan, khususnya terkait pembangunan dan operasional pangkalan militer di beberapa pulau buatan yang dibangun di wilayah tersebut, kekhawatiran atas meningkatnya agresifitas China telah menjadi perhatian internasional, terlebih bagi negara-negara di sekitar wilayah yang bersengketa dengan klaim China. Pembangunan ADIZ oleh China telah diprediksi sejak tahun 2010. Terlebih dengan mulai beroperasinya pangkalan militer di gugusan Pulau Pratas, Paracel, dan Spratly serta pengerahan sistem pertahanan udara jarak jauh dan menengah HQ-9 telah menguatkan posisi China untuk menguasai ruang udara atas wilayah yang disengketakan. Sistem pertahan udara HQ-9 sendiri merupakan sistem rudal permukaan-ke-udara radar aktif jarak jarak jauh yang dapat mencegat target udara, seperti pesawat supersonik, rudal jelajah helikopter, dan drone pada jarak hingga 250 km (155 mil) dan ketinggian hingga 30.000 meter (19 mil). Kehadiran ADIZ atas Laut China Selatan meningkatkan potensi blokade kebebasan navigasi ruang udara atas wilayah tersebut. Blokade ruang udara sangat berpengaruh apabila eskalasi konflik meningkat, di mana hal ini akan membatasi gerak dari pesawat-pesawat militer negara-negara yang berkonflik, serta penerbangan komersial. Pada tahun 2020, negara seperti Taiwan dan Filipina telah memperhatikan rencana China untuk membangun ADIZ di wilayah Laut China Selatan. Pembangunan ADIZ di Laut China Selatan akan berimplikasi pada meningkatnya kontrol China pada ruang udara maupun laut di wilayah tersebut dan membatasi gerak serta kebebasan navigasi bagi negara-negara sekitar dan internasional.


Kedua, China secara konsisten meningkatnya patroli dan ancaman serangan udara untuk menekan negara-negara di sekitar wilayah Laut China Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, China telah secara konsisten mengerahkan pesawat-pesawat militer mereka, guna menunjukkan superioritas dan sebagai ancaman bagi negara-negara yang memiliki sengketa wilayah maritim dengan mereka di Laut China Selatan. Sejak 2015, PLAAF mengirimkan pesawat tempur generasi keempat Chengdu J-10 dan Shenyang J-11BH/BHS yang merupakan pesawat tempur superioritas udara, ke kepulauan yang disengketakan di Laut China Selatan. Menurut Anders Corr dalam laporannya “Effect of South China Sea Air Strips on the Range of Chinese Surface-to-Air Missiles and the J-10 Fighter”, pengerahan pesawat J10 dan J-11BH/BHS yang memiliki jangkauan tempur sejauh 900 km sampai 1.500 km akan memperkuat dan menambah jangkauan tempur dari kekuatan udara guna mempertahankan klaim dan menekan negara-negara di sekitarnya yang berusaha untuk menghalangi China. Tidak hanya itu, sejak Mei 2018, Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF)  telah mengerahkan pesawat pembom jarak jauh berkemampuan nuklir H-6 dan H-6K mereka ke pangkalan militer di Pulau Woody, Kepulauan Paracel. China kerap kali menggunakan dalih patroli udara rutin sebagai alasan mereka dalam usaha menguasai ruang udara di wilayah Laut China Selatan dan sekitarnya. China tak segan-segan menunjukkan kehadiran militer mereka, khususnya kekuatan udaranya, untuk unjuk gigi di Laut China Selatan. Misalnya saja pada 2020, China melakukan latihan militer udara dengan menggunakan pesawat tempur Sukhoi Su-33 MKK dan pesawat pembom H-6 dan H-6K di wilayah yang disengketakan tersebut.


Terkait ancaman serangan udara, beberapa negara telah menghadapi ancaman yang serius dari agresivitas China atas Laut China Selatan. Angkatan Udara Kerajaan Malaysia atau Royal Malaysian Air Force (RMAF) pada 1 Juni 2021 mengatakan dalam siaran persnya bahwa pada 31 Mei 2021, sebanyak 16 pesawat militer China dari Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat atau PLAAF telah terdeteksi memasuki ruang udara Malaysia di atas wilayah maritim yang disengketakan antara Malaysia dengan China, yaitu sekitar 60 mil di lepas pantai Sarawak. Berdasarkan pengumuman RMAF, pesawat militer China yang memasuki ruang udara mereka merupakan pesawat angkut militer berjenis Xi'an Y-20 dan Ilyushin Il-76. RMAF mendeteksi pertama kali kehadiran pesawat-pesawat tersebut pada pukul 11.53 waktu setempat di mana mereka terbang dalam “formasi taktis” pada ketinggian 23.000-27.000 kaki serta tidak mengindahkan upaya komunikasi. Pada pukul 13.33 RMAF mengerahkan jet tempur mereka dari Pangkalan Udara Labuan untuk melakukan "identifikasi visual” dengan menerjunkan jet tempur ringan Hawk 208.


Malaysia juga merilis peta yang menunjukkan bahwa jet PLAAF terbang melewati Luconia Shoals sebelum berbalik 60 mil dari pantai Malaysia di sekitar James Shoal. Kedua aset maritim tersebut, merupakan aset yang disengketakan antara Malaysia dan China. Malaysia mengklaim bahwa dua aset maritim tersebut merupakan bagian dari Zona Ekonomi Eksklusif mereka, sedangkan China mengklaim bahwa kedua aset tersebut masuk dalam wilayah yang mereka sebut sebagai “zona perikanan tradisional” dalam Nine Dash Line China. Atas tindakan China tersebut, Malaysia melalui Menteri Luar Negerinya, Hishammuddin Hussein, menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan “pelanggaran wilayah udara dan kedaulatan Malaysia”. Malaysia telah melayangkan nota protes diplomatik kepada China melalui Kedutaan Besar China di Malaysia. Atas insiden tersebut, China berdalih bahwa kegiatan pesawat militer China tersebut merupakan bentuk "kebebasan penerbangan di wilayah udara yang relevan". Hal ini dipandang sebagai sifat ambigu China terhadap Malaysia dalam klaim wilayah maritim tersebut.


Tidak hanya dialami oleh Malaysia, ancaman serangan udara juga dialami oleh Taiwan, bahkan melalui ancaman yang lebih serius dan lebih intens jika dibandingkan negara-negara lain yang memiliki sengketa dengan China atas wilayah Laut China Selatan. Tak berselang lama dari peristiwa pelanggaran ruang udara oleh pesawat militer China di Malaysia, Taiwan juga menghadapi potensi ancaman yang sama. Pada 15 Juni 2021, China menerbangkan 28 pesawat militer mereka ke zona penyangga udara atau buffer zone antara wilayah China daratan dengan Taiwan. Pelanggaran ruang udara ADIZ Taiwan oleh pesawat militer China ini merupakan ancaman udara yang terbesar bagi Taiwan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam pelanggaran ruang udara ini, China mengirimkan terdiri dari 14 pesawat tempur J-16 dan enam pesawat J-11, empat pesawat empat pengebom berkemampuan nuklir H-6, pesawat anti-kapal selam, dan pesawat peringatan dini (AEW&C) yang di mana hal ini jelas merupakan tindakan provokatif terhadap wilayah Taiwan. Tindakan China tersebut juga dianggap sebagai “gertakan” kepada pemerintah dan rakyat Taiwan untuk tidak menyatakan kemerdekaannya atas China. Ancaman udara ini muncul setelah pemimpin negara Kelompok Tujuh (G-7) mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu yang menyerukan resolusi damai masalah lintas Selat Taiwan dan menggarisbawahi pentingnya perdamaian dan stabilitas. Hal ini dipandang China sebagai hal yang mencampuri urusan dalam negeri China.


Sejak awal tahun 2021, China telah secara konsisten meningkatkan serangan ancaman udara mereka, dengan mengirimkan lebih banyak pesawat tempur ke wilayah ADIZ Taiwan. Pada 24 Januari 2021, Taiwan melaporkan bahwa China telah mengirimkan 15 pesawat militer mereka ke zona pertahanan udara Taiwan. Lalu, pada 26 Maret 2021, China kembali mengirimkan dua puluh pesawat militer yang terdiri dari empat pembom H-6K berkemampuan nuklir, 10 jet tempur J-16, dan pesawat anti-kapal selam. Pada 12 April, China mengirimkan 25 pesawat militer. Kementerian Pertahanan Taiwan mengungkapkan bahwa hampir setiap hari terjadi pelanggaran ruang udara Taiwan oleh pesawat-pesawat militer China, khususnya di wilayah yang disengketakan seperti di atas Selat Bashi yang memisahkan Taiwan dengan Filipina, di atas Kepulauan Pratas yang dikuasai Taiwan di Laut China Selatan, dan antara Kepulauan Senkaku/Diaoyu yang juga menjadi “hot zone” bagi negara-negara di Asia Timur. Merespon ancaman yang ada, Angkatan udara Taiwan  (ROCAF) telah menjadi tulang punggung bagi mengamankan wilayah Taiwan. ROCAF telah mengerahkan pasukan patroli udara tempurnya sebagai tanggapan dan memantau situasi di bagian barat daya zona identifikasi pertahanan udara pulau itu dengan sistem pertahanan udaranya. Bahkan pada tahun 2020 sendiri, Kementerian Pertahan Taiwan mencatat bahwa, ROCAF telah melakukan sebanyak 2.972 pengerahan jet tempur mereka dengan biaya  sebesar T$25,5 miliar atau $886,49 juta untuk mencegat pesawat militer China yang memasuki wilayah ADIZ mereka. Tingginya pengerahan jet tempur tentu akan berdampak pada kesiapan operasional dari pesawat-pesawat tempur Taiwan. Bagi Taiwan, ancaman serangan udara China tidak hanya terkait dengan sengketa Laut China Selatan, tetapi juga sebagai upaya China untuk mengambil wilayah tersebut, masuk ke dalam teritorial mereka (aneksasi). Taiwan memiliki pemerintahan sendiri yang demokratis, berbeda dengan sistem komunis China. Namun, China terus mengklaim Taiwan sebagai bagian dari provinsi dari wilayahnya.


Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kekuatan udara  militer China sangat diarahkan secara masif bagi penguasaan dan menguatkan klaim mereka atas ruang udara di Laut China Selatan dan sekitarnya, bersamaan dengan klaim Taiwan sebagai bagian wilayahnya. Berbagai tindakan agresif seperti pengerahan pesawat militer, baik pesawat tempur, pesawat pengebom, maupun pesawat angkut militer telah secara konsisten menunjukkan ambisi China untuk hadir dan mengontrol ruang udara wilayah tersebut. Hal ini juga menjadi peringatan bagi negara-negara kawasan Laut China Selatan untuk tidak mengganggu upaya China dalam upaya membangun klaim tersebut. Tindakan agresif militer China telah berimplikasi secara luas, baik terkait keamanan regional maupun global. Bukan tidak mungkin, dengan meningkatnya agresivitas China akan berimplikasi pada konflik yang lebih kompleks serta menyangkut negara-negara besar lainnya, terutama negara-negara dengan kemampuan nuklir seperti Amerika Serikat. Semua kegiatan yang China lakukan secara global merupakan wujud realisasi mereka dalam mencapai tujuan China sebagai negara pusat dunia atau dalam bahasa mandarin disebut “Chung-kuo”. Dalam mewujudkan cita-cita tersebut, China berambisi untuk menguasai dari Laut China Selatan, Kepulauan Diaoyu/Senkaku, sampai Daratan Mongolia melalui kekuatan penuh dari militernya. Hal ini tentu mendapatkan tantangan internasional di mana secara de jure di Laut China Selatan, China mendapatkan penolakan yang sangat besar dari komunitas internasional atas klaim tersebut.


Penulis : Mohammad Maulana Ilhami


-  Universitas Pembangunan Nasional  “Veteran” Yogyakarta - 



DAFTAR PUSTAKA 

ABC. (2021, February 19). Taiwan reports eight Chinese fighters in its defence zone as it appoints new defence minister. ABC News. Retrieved June 17, 2021, from https://www.abc.net.au/news/2021-02-20/taiwan-reports-eight-chinese-fighters-in-its- defence-zone/13174320

BBC. (2021, June 2).

https://www.airforcemag.com/PDF/MagazineArchive/Magazine%20Documents/2016/ February%202016/0216supremacy.pdf. BBC News. Retrieved June 17, 2021, from https://www.bbc.com/news/world-asia-57328868

BBC. (2021, June 16). Taiwan reports 'record number' of Chinese jets in its air defence zone.

BBC News. Retrieved June 17, 2021, from https://www.bbc.com/news/world-asia-china-57493353

Blanchard, B. (2021, April 7). China sends more jets; Taiwan says it will fight to the end if there's war. Reuters. Retrieved June 17, 2021, from https://www.reuters.com/article/us-taiwan-defence-idUSKBN2BU0HJ

Chen, K. (2020, May 5). China to set up ADIZ in South China Sea. Taiwan News. Retrieved June 17, 2021, from https://www.taiwannews.com.tw/en/news/3928503

Hille, K. (2021, June 15). China flies record number of fighter jets towards Taiwan. Financial Times. Retrieved June 17, 2021, from

https://www.ft.com/content/64778dbb-1b99-425b-b09f-80dd2eb622f1

Mangosing, F. (2020, June 25). China plan to control South China Sea airspace dangerous, says Lorenzana. Inquirer.net. Retrieved June 17, 2021, from https://globalnation.inquirer.net/188899/china-plan-to-control-south-china-sea-airspac angerous-says-lorenzana


Meilinger, P. S. (n.d.). Supremacy In The Skies. Air Force Magazine, (Februari 2016), 46. https://www.airforcemag.com/PDF/MagazineArchive/Magazine%20Documents/2016

/February%202016/0216supremacy.pdf

Ong, T. (2021, May 24). China Puts Upgraded HQ-9 Missile System to ‘Extreme Test’. The Defense Post. Retrieved August 1, 2021, from https://www.thedefensepost.com/2021/05/24/china-hq9-missile-system-extreme-test/

Reuters. (2020, October 7). Taiwan says has spent almost $900 million scrambling against China this year. Reuters. Retrieved June 17, 2021, from https://www.reuters.com/article/us-taiwan-security-idUSKBN26S0K6

Reuters. (2021, March 26). Taiwan reports largest ever incursion by Chinese air         forceReuters. Retrieved June 17, 2021, from https://www.reuters.com/article/us-taiwna-china-security- idUSKBN2BI24D Saunders, R., & Souva, M. (2020, Oktober 1). Air superiority and battlefield         victory. Research and Politics7(4), 1-8. https://doi.org/10.1177/2053168020972816

Wood, R. (2020, August 4). Chinese fighter planes fly long range patrol over South China Sea amid rising tensions. 9News. Retrieved June 17, 2021, from https://www.9news.com.au/world/south-china-sea-chinese-peoples-liberation-army-ai r-force-fly-patrols-asia-pacific/ee3b0eff-94ca-4115-af2e-ed820f261c5b

Wu, H. (2021, June 15). China sends record 28 fighter jets toward Taiwan. abc News.

Retrieved June 17, 2021, from

https://abcnews.go.com/International/wireStory/china-sends-record-28-fighter-jets-tai wan-78288190

Yeo, M. (2021, June 1). China sends 16 military aircraft over disputed South China Sea shoals near Malaysia. Defense News. Retrieved June 17, 2021, from https://www.defensenews.com/global/asia-pacific/2021/06/01/china-sends-16-military

-aircraft-over-disputed-south-china-sea-shoals-near-malaysia/


0 Comments

Leave a comment