loading...

Konflik Rusia–Ukraina: Urgensi Perang Nuklir dan Kemungkinannya

            Penulis: Mutiara Dania & Weilie Winaldy Sugianlie


“No matter who tries to stand in our way or … create threats for our country and our people, they must know that Russia will respond immediately, and the consequences will be such as you have never seen in your entire history.”

Begitulah sepenggal kalimat yang dinyatakan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin pada 24 Februari 2022 sebagai pidato dalam merespon tindakan dari Federasi Rusia yang melakukan tindakan Intervensi Militer kepada Ukraina. Sebagai negara dengan jumlah persenjataan nuklir terbesar di dunia, bukan tidak mungkin bahwasannya akan ada kemungkinan untuk terjadinya kembali perang nuklir di kemudian hari melihat situasi sekarang ini.

Melansir dari pernyataan Federasi Ilmuwan Amerika (The Federation of American Scientist) memperkirakan bahwa terhitung ada sekitar total 12.700 hulu ledak nuklir di dunia pada awal tahun 2022. Senjata-senjata tersebut dipegang oleh 9 (sembilan) negara di dunia, diantaranya adalah Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, China, Israel, India, Pakistan dan Korea Utara. Setiap negara dengan senjata nuklir memiliki proses komando dan kontrolnya sendiri yang digunakan para pemimpin untuk memutuskan apakah, kapankah, dan di manakah senjata nuklir tersebut akan diluncurkan.

Situasi semakin memanas ketika Presiden Vladimir Putin memerintahkan menteri pertahanan dan panglima militernya untuk menempatkan pasukan pencegahan nuklir dalam Special regime of combat duty yang memiliki kemungkinan besar mengacu pada persiapan pasukan nuklir taktis dalam pertikaiannya dengan Ukraina. Seperti yang dilansir oleh Reuters, Kementerian Pertahanan Rusia telah menambahkan lebih banyak personel ke departemen militer yang bertanggung jawab untuk meluncurkan serangan nuklir. Peningkatan staf adalah salah satu cara untuk menunjukkan kesiapan untuk meluncurkan senjata nuklir sebagai serangan pertama, atau untuk mempersiapkan peluncuran senjata yang sama sebagai tanggapan terhadap serangan pertama negara lain. Perkembangan yang sangat mengkhawatirkan ini menegaskan kembali betapa besarnya taruhan perang nuklir dalam beberapa minggu terakhir. Perang di Ukraina seharusnya menjadi peringatan bagi semua negara bahwa kenyataan tentang ancaman peperangan nuklir semakin nyata.

Kekhawatiran ini menjadi semakin meluas karena seperti yang kita tahu, senjata mempunyai potensi yang lebih besar dari sekadar instrumen abstrak guna mencegah agresi dan menjaga stabilitas di tengah negara-negara yang saat ini memodernisasi dan memperluas persenjataan nuklir mereka, bahwasanya sebagai alat kepentingan politik. Di satu sisi, baik Ukraina maupun Rusia memiliki persediaan hulu ledak nuklir terbesar di dunia, termasuk keunggulan dalam senjata nuklir taktis yang dirancang untuk digunakan di medan perang. Di sisi lain, mitra strategis paling kuat Ukraina, Amerika Serikat, juga memiliki cadangan nuklir yang sangat besar dan canggih. Mitra NATO lainya seperti Prancis dan Inggris memiliki kemampuan nuklir canggih mereka sendiri; dan negara-negara lain yang tergabung dalam NATO: Belgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Turki menjadi tuan rumah senjata nuklir AS di wilayah mereka.

Meskipun sangat tidak mungkin AS dan sekutu NATO-nya akan melakukan serangan nuklir terhadap Rusia, ada kemungkinan untuk membayangkan beberapa skenario yang dapat membuat mereka terjerat dalam konflik, yang mengarah ke eskalasi nuklir yang tidak diinginkan. Bahaya paling serius adalah kesalahan persepsi, dimana risiko bahwa tindakan yang diambil oleh AS atau NATO untuk mendukung Ukraina disalahartikan oleh Rusia sebagai provokasi strategis yang disengaja. Ini bukan skenario yang dibuat-buat mengingat postur nuklir Rusia yang mempertahankan kekuatan nuklir dalam siaga tinggi (high alert), dan mengingat ancaman nuklir yang dibuat oleh Presiden Putin. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana meredakan konflik, bahwasannya urgensi untuk mencegah  perang perlu dihentikan demi  kepentingan kemanusiaan dan demi kehidupan di bumi. Terdapat  dua kemungkinan langkah sangat penting yang bisa dilakukan dalam merespon ancaman perang ini.

Pertama, para pemimpin politik harus bersatu untuk mendukung keamanan kolektif dan hukum internasional. Sanksi ekonomi saja tidak cukup. Negara-negara anggota PBB harus menggunakan sistem PBB dengan cara yang awalnya dirancang untuk berfungsi di era pasca-perang, untuk merespons secara kolektif dan tegas terhadap tindakan agresi. Dengan tindakan Dewan Keamanan PBB diblokir oleh veto Rusia, Majelis Umum PBB memiliki kekuatan untuk bertindak melalui prinsip “Bersatu untuk Perdamaian” (Uniting for Peace), yang membebankan kewajiban kepada negara-negara anggota PBB untuk menerapkan tanggapan terkoordinasi terhadap agresi ketika dewan keamanan gagal untuk merespon. Kedua, orang-orang biasa di seluruh dunia perlu menjelaskan bahwa kita tidak akan lagi menoleransi hidup di bawah ancaman perang nuklir. Senjata nuklir memberdayakan kepala pemerintahan yang tidak menentu dan bergejolak di negara-negara despotik dan demokratis dan menciptakan risiko yang tidak dapat diterima bagi seluruh umat manusia. Mereka bukan stabilisator. Pencegahan nuklir masih jauh dari kata sempurna membawa dunia ke jurang terlalu banyak kesempatan. Sudah waktunya untuk menuntut penghapusan senjata nuklir dan penciptaan pengaturan keamanan yang stabil berdasarkan sistem PBB yang berfungsi dengan baik dan menjunjung hukum internasional.


References

Atherton, K. D. (2022, March 2). The Russian and American nuclear arsenals, explained. Popular Science. Retrieved March 7, 2022, from https://www.popsci.com/technology/nuclear-weapons-explained/

Bokat, S. (2022, March 2). Opinion | Putin Is Brandishing the Nuclear Option. How Serious Is the Threat? The New York Times. Retrieved March 7, 2022, from https://www.nytimes.com/2022/03/02/opinion/ukraine-putin-nuclear-war.html

Dhanesha, N. (2022, February 27). How to think about the risk of nuclear war, according to 3 experts. Vox. Retrieved March 7, 2022, from https://www.vox.com/22951004/nuclear-weapons-russia-ukraine-war-putin

Guterl, F., & Medved, M. (2022, March 6). Nuclear Fears Intensify As Ukraine War Builds. What Is Putin's Threshold? Newsweek. Retrieved March 7, 2022, from https://www.newsweek.com/nuclear-fears-intensify-ukraine-war-builds-what-putins-threshold-1685240

Ogilvie, T. (2022, February 27). As Putin puts nuclear forces on high alert, here are 5 genuine nuclear dangers for us all. The Conversation. Retrieved March 7, 2022, from https://theconversation.com/as-putin-puts-nuclear-forces-on-high-alert-here-are-5-genuine-nuclear-dangers-for-us-all-177923

Pandey, N. (2022, March 6). Russia-Ukraine crisis: Is a nuclear war likely? What is a nuclear winter? WION. Retrieved March 7, 2022, from https://www.wionews.com/world/russia-ukraine-crisis-is-a-nuclear-war-likely-what-is-a-nuclear-winter-459545

Williams, P. (2022, March 6). Nuclear weapons offer protection against meaningful opposition — and Vladimir Putin knows it. ABC. Retrieved March 7, 2022, from https://www.abc.net.au/news/2022-03-07/ukraine-nuclear-war-threat-protects-russia-from-opposition/100882002

Wright, R. (2022, March 1). What Does Putin's Nuclear Sabre Rattling Mean? The New Yorker. Retrieved March 7, 2022, from https://www.newyorker.com/news/daily-comment/what-does-putins-nuclear-sabre-rattling-mean

0 Comments

Leave a comment