Penanganan Stunting di Indonesia: Peran Non- Governmental Organization 1000 Days Fund di NTT

Kondisi balita pendek atau sering disebut dalam istilah stunting merupakan permasalahan gizi yang terjadi pada balita di berbagai belahan dunia. Pemenuhan gizi dalam 1000 hari pertama bagi balita menjadi waktu yang sangat krusial. Berdasarkan data Joint Child Malnutrition Estimates yang dikeluarkan World Health Organization[1]terdapat 32,6% balita stunting pada tahun 2000 dan mengalami penurunan menjadi 22,2% pada tahun 2017.  Stunting paling banyak dialami oleh balita yang wilayah Asia Selatan,  termasuk Indonesia dengan menyentuh angka 34,6% hingga tahun 2018[2].

1000 Days Fund merupakan Non Government Organization (NGO) yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi masalah kesehatan bagi anak di Indonesia yaitu stunting dan telah memiliki wilayah kerja atau target lokasi rawan di lebih dari 16 provinsi di Indonesia termasuk Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki tingkat stunting tertinggi yaitu sebanyak 42,46 persen[3].  Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, saat ini sebanyak 269.658 balita atau 43 persen dari 633.000 balita di NTT tercatat menderita stunting  dan 75.960 balita atau 12 persen diantaranya menderita wasting (kurus). Angka yang tinggi tersebut tentu akan berdampak pada kehilangan generasi bangsa, bonus demografi dan masalah ekonomi Indonesia pada tahun 2035.

1000 hari pertama kehidupan seorang anak dari kandungan sampai umur 2 tahun. 1000 hari pertama merupakan sebuah titik emas, fondasi yang baik untuk mendukung tumbuh kembang anak, kecerdasan dan sebagai jaminan atas kesejahteraan di masa depan sehingga membutuhkan asupan gizi dan nutrisi yang baik, pelayanan kesehatan prima dan lingkungan yang sehat.  Beberapa penanganan yang dilakukan oleh 1000 Days Fund meliputi pemberian penyuluhan mengenai makanan yang bernutrisi serta makanan yang memenuhi standar gizi untuk balita, pemberian makanan bergizi untuk ibu dan bayi. Yayasan ini telah menyebar dua 12 ribu poster stunting di 22 pulau, 5000 bagan tinggi badan telah disebarkan, 18 pulau telah dijangkau dan lebih dari 6.600 wanita dan anak mendapat pelayanan dari pekerja kesehatan yang dilatih dan berdampak pada kondisi ibu hamil dan calon bayi. Berdasar data sementara Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Nusa Tenggara Timur, menunjukkan bahwa kasus stunting di NTT tahun 2019 adalah 30,9 persen, mengalami penurunan dari 35,5 persen pada tahun 2018. Peran 1000 Days Fund juga memerlukan perhatian pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan pemberi bantuan terhadap daerah-daerah rawan stunting.


[1] World Health Organization. 2018. Global Database on Child Growth and Malnutrition. Diakses melalui https://www.who.int/nutgrowthdb/database/en/ pada 16 Januari 2020.

[2] World Health Organization . 2018. Child stunting data visualizations dashboard. Diakses melalui https://apps.who.int/gho/data/node.sdg.2-2-viz-1?lang=en pada 16 Januari 2020

[3] Lewanmeru,Oby. Stunting di NTT masih tinggi, -42, 46 persen di Tahun 2018. Diakses melalui https://kupang.tribunnews.com/2019/08/16/stunting-di-ntt-masih-tinggi-4246-persen-di-tahun-2018 pada 17 Februari pukul 01.01 WIB.

You can also download full paper on the link below:

https://gofile.io/d/BG6CDO

Thank you!

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search