Elegi Hidup Untuk Para Penyintas

     Dunia sepertinya sedang memberikan ruang kepada penghuninya untuk beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kehidupan. Kegiatan yang menjadi poros kehidupan terpaksa berhenti untuk sementara waktu, apalagi kalau bukan kegiatan perekonomian. Kegiatan ekonomi seperti lumpuh sejak 3 bulan terakhir, tanpa ada yang tahu kapan ini akan berakhir. Covid-19 membawa banyak perubahan di dalam perjalanan kehidupan manusia. Terutama mengenai penurunan kemampuan ekonomi tiap individu. Tidak hanya tiap-tiap individu yang terdampak, namun jangkauannya lebih luas lagi yaitu negara. Banyak negara yang terguncang sistem perekonomiannya dan akhirnya berdampak pada hubungan internasional. Sebagai contoh, belum lama terdengar harga minyak yang jatuh terlalu drastis dikarenakan tidak adanya pembelian dari banyak negara, semua ini dikarenakan sebagian aktivitas manusia sudah berhenti. Itu artinya tidak ada pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung apalagi pekerjaan yang menggunakan minyak bumi sebagai bahan dasarnya.

       Mari kita lihat negara kita sendiri, Presiden Indonesia Ir. Joko Widodo meresmikan work from home dan stay at home sejak bulan Maret lalu. Tidak ada lagi kegiatan pekerjaan di luar sana, bahkan kegiatan belajar pun tidak diadakan seperti pada umumnya melainkan diganti dengan sistem online. Segala jenis pekerjaan dilaksanakan dari rumah, tidak ada lagi yang pergi ke kantor pada pagi hari dan pulang di sore hari. Semua itu tanpa kita sadari dapat mempengaruhi perekonomian dalam negeri ini. Mungkin yang kita lihat hanyalah perusahaan-perusahaan yang kesulitan dalam membayar sumber dayanya, namun pernahkah kita melihat orang-orang kecil yang sebenarnya sudah mengalami kesulitan walaupun tanpa adanya pandemi ini.

       Situasi seperti ini memang semuanya mengalami kesulitan, tidak hanya yang tidak mampu namun seluruh kalangan masyarakat juga merasakannya. Tidak adanya pemasukan seperti biasanya namun uang harus tetap keluar untuk membayar semua kebutuhan pribadi maupun yang lainnya. Inilah yang harus dihadapi bersama karena tanpa kita sadari manusia juga lah yang menjadi penyebab dalam situasi seperti ini.

       Tidak adanya pekerjaan namun perut harus selalu terisi walaupun hanya dengan sepotong roti. Bagaimana caranya? Di sini tingkat kriminalitas perlu disoroti. Kebutuhan pokok selalu menuntut manusia untuk tetap menyediakannya, namun apa daya yang dapat dilakukan manusia jika situasi seperti ini. Tindak kriminal merupakan salah satu jalan bagi orang yang tidak bermoral. Caranya pun mudah dan cepat, tidak perlu banting tulang untuk mendapatkan lembaran demi lembaran uang, itupun jika ada pekerjaan yang sedikit demi sedikit bisa dilakukan. Sekarang ini yang harus disoroti oleh pemerintah ialah tindak kejahatan yang semakin merajalela di masyarakat. Manusia butuh uang untuk menghidupi dirinya dan mungkin keluarganya namun tidak adanya pekerjaan dan pendapatan yang tersedia. Pemerintah harus bisa memutar otak bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar tidak melakukan tindak kejahatan.

      Memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok? Memang sudah dijalankan oleh pemerintah pusat dan daerah. Namun pernahkah kalian mendatangi daerah yang mungkin dapat dikatakan jauh dari perkotaan? Tanpa kita ketahui, bantuan-bantuan tersebut banyak yang terpotong di tiap-tiap tingkatan dan sampai di pihak yang membutuhkan hanya beberapa bagian saja. Sungguh ironi jika di saat kondisi seperti ini masih banyak pihak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

       Perekonomian dalam negeri memang sedang tidak stabil, roda perputaran perekonomian belum mulai berputar dikarenakan satu dua hal. Hal ini juga menjadikan segala kebutuhan menjadi mahal dan langka. Namun juga bukan menjadi masalah bagi para pedagang yang memiliki niat buruk untuk menimbun atau menjualnya dengan harga yang melonjak drastis. Dapat kita jumpai di pasar-pasar tradisional hal semacam itu dan sebenarnya tidak menjadi sesuatu yang aneh bagi masyarakat Indonesia sendiri. Pada waktu-waktu tertentu memang biasanya pedagang menimbun barang dagangannya dan ketika barang tersebut menjadi langka ia akan menjual dengan harga yang jauh di atas rata-rata, itu merupakan sebuah strategi yang tidak baik namun tetap digunakan dalam kegiatan jual beli. Sayangnya, strategi ini sangat tidak tepat jika diterapkan saat ini karena jumlah uang yang beredar di masyarakat pun menipis dan kemampuan membeli pun menjadi sangat kecil.

       Kekacauan ekonomi yang sedang terjadi seharusnya menjadi pembelajaran untuk semuanya. Manusia merupakan makhluk sosial yang pastinya membutuhkan orang lain di kehidupannya. Terjadinya situasi dan kondisi seperti ini dapat dijadikan tamparan keras untuk seluruh manusia yang ada di bumi agar tetap saling membantu antara yang satu dengan yang lain. Mungkin juga dengan adanya situasi seperti ini Tuhan menginginkan kita untuk menghilangkan sifat individualis yang ada pada diri kita dan mengajarkan untuk melihat di sekitar kita yang nyatanya tidak seberuntung diri ini.

       Segala hal yang terjadi memiliki maknanya tersendiri, perekonomian menurun juga memiliki makna tersendiri. Mungkin sebagian orang sudah memahami maknanya namun banyak juga orang yang tidak mengerti apa arti dari semua ini, atau bahkan juga ada yang menjadi korban dalam penurunan perekonomian yang sedang terjadi. Biasanya yang menjadi korban ialah orang yang lemah, lemah di sini diartikan sebagai lemah dalam kemampuan ekonomi. Adanya pendapatan yang cukup setiap harinya membuat si lemah menjadi bersyukur, namun pada saat ini tidak adanya pendapatan yang masuk membuat si lemah menjadi makin lemah.

       Ekonomi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam hidup. Manusia dapat bertahan hidup jika ekonomi mendukung untuk penyediaan berbagai kebutuhan, tidak hanya kebutuhan pokok saja namun juga kebutuhan sekunder ataupun tersier. Perekonomian suatu bangsa tergantung dari warganya yang menjalankan, semakin banyak kegiatan perekonomian maka semakin banyak juga uang yang didapatkan negara tersebut. Perekonomian dalam negeri saat ini memang dapat dikatakan sedang lambat pergerakannya, namun percayalah semua itu akan berakhir sesegera mungkin. Perekonomian Indonesia dan dunia akan kembali normal seperti sedia kala.

Ditulis oleh: Wahyu Rahmadinda – Universitas Diponegoro

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search