Selamat Hari Kartini, Perempuan Kuat.

Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang bisa menjatuhkanmu adalah dirimu sendiri.”- Raden Adjeng Kartini.

Kartini erat kaitannya dengan emansipasi wanita. Sebenarnya, apa arti emansipasi wanita? Apakah hal tersebut membuka pemikiran seseorang bahwa wanita tidak hanya dipandang sebelah mata, namun juga menjadi salah satu bagian penting dalam terciptanya kehidupan yang lebih baik? Sejak zaman dulu saat diperjuangkannya harapan-harapan tersebut, Kartini, seorang yang menjadi garda terdepan dalam perjuangan memberikan kontribusi nyata terhadap eksistensi perempuan pada masa nya dan memperlihatkan sisi positif dari seorang perempuan. Dimana perempuan memiliki tingkat kesetaraan yang sama dengan laki-laki.

Penting bagi kita untuk mengetahui sejarah yang pernah tercatat dalam hal apapun, termasuk sejarah seorang yang memperjuangkan hak perempuan, ialah Kartini. Namun, dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk melihat dari sisi lain yang diwujudkan oleh Pahlawan perempuan tersebut. Penulis akan mencoba untuk mengelaborasikan eksistensi perempuan sejak diperjuangkannya hak-hak tersebut hingga saat ini, di era millenial.

“Arti Kartini adalah perempuan hebat. Selama ini kita mengenal kesetaraan gender, feminism, dan gerakan-gerakan serupa merupakan sumbangan dari “barat”. Namun sebetulnya, kita punya perempuan penggerak dan pemberdaya kaumnya dari dalam negeri. Kartini yang muda, belia dan berani.” – (MF Oktavia Nugraheni-Ketua HMHI Universitas Diponegoro). Sebuah kata pengantar yang membangkitkan semangat kaum perempuan dalam menyikapi hari Kartini.

Kartini melambangkan saya, melambangkan kamu, melambangkan kita sebagai wanita Indonesia dengan penuh inspiratif dan kontribusi untuk bangsa yang besar ini.” – Audry Maura, Presidium Nasional Koordinator Wilayah IV.

“Kartini” secara umum melambangkan perjuangan, pemenuhan atas hak-hak yang tidak pernah dimiliki sebelumnya. Sehingga, Hari Kartini ini diperingati bukan hanya sebagai momentum, namun juga sebagai implementasi dari nilai-nilai ruh perjuangan yang dibawanya dari dulu dan masih kental terasa hingga saat ini. Kartini juga melambangkan setara atau kesetaraan. Mengutip dari pernyataan Ketua HMHI Undip, Oktavia, bahwa kesetaraan gender hingga saat ini masih dianggap sebagai hal yang tabu. Banyak yang salah mengartikan gender equality hanya meliputi laki-laki dan perempuan saja, namun jauh diluar definisi tersebut, gender merupakan kelamin sosial yang terkostruksi dari lingkungan sosial tempat dimana manusia hidup dan tinggal. Menarik, bahwa kenyataan sosial yang kita hadapi saat ini lebih kompleks dari apa yang telah diperjuangkan dulu. Kita tidak lagi memerangi hak-hak perempuan saja, namun juga memerangi kenyataan sosial yang terjadi saat ini.

Menurut Grace Natalia Kusuma, Ketua Umum Himahi Universitas Teknologi Yogyakarta bahwa untuk saat ini perlu diakui bahwa kesetaraan gender belum sepenuhnya terimplementasi. Banyak pola pikir mulai dari yang sederhana hingga yang rumit masih memberikan adanya diskriminasi terhadap perempuan, khususnya di berbagai bidang. Hal tersebut menyebabkan ruang gerak perempuan selalu terbentur berbagai hal-hal yang dianggap normatif padahal justru mengekang, tak jarang hal-hal semacam ini justru hadir juga dari sesama kaum perempuan.

Bentuk partisipasi dalam rangka merayakan serta memperingati hari Kartini beragam. Bentuk partisipasi konkrit yang bisa dilakukan salah satunya dengan cara memberikan ucapan kepada lingkungan sekitar seperti keluarga, kerabat dan teman dekat. Kartini sebagai lambang kekuatan perempuan ditengah dunia yang patriarki ini sudah semestinya memberikan energi dan dampak positif khususnya bagi perempuan. Menjadi perempuan yang kuat hingga hari ini juga dinilai sebagai bentuk partisipasi perempuan dalam hal mewujudkan cita-cita seorang Kartini.

Pada akhirnya, momentum ini kita jadikan sebagai cerminan diri di masa lalu untuk menjadi lebih baik di masa sekarang dan yang akan datang. Selamat memperingati hari Kartini, perempuan Indonesia.

“Perempuan turut mengambil peran dalam berbagai bidang walaupun tak sedikit dari mereka yang masih mengalami hambatan. Tak jarang pula, keikutsertaan perempuan menjadi seorang pemimpin mendapat tantangan dari lingkungan mereka. Untuk semua itu, mari terus berjuang untuk mewujudkan impian-impian kita.”– Fatrineze Eklesia Manginte Putri.

In the future, there will be no female leaders. There will just be leaders. -Sheryl Sandberg-

“Kalian luar biasa! Jadilah perempuan berdaya yang tak mudah diperdaya dan mampu memberdyaakan.” – Firda Ainun Ula

Say no to The Future is Female, because The Present is Female. Because Who Run the World? Girls!” – MF Oktavia Nugraheni

Buktikan ke semua orang bahwa kita bisa melakukan hal yang mereka anggap tidak bisa kita lakukan.” – Anisa Galuh Sitaresmi

Masa kita adalah masa pembuktian dari perjuangan Kartini. Perjuangan yang sudah susah payah dilakukan, mari kita jadikan kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagai versi terbaik dari perempuan, dengan cara kita masing-masing, dimanapun kita berada.” – Grace Natalia Kusuma

“Jangan pernah menyudutkan diri hanya karena kalian wanita. Perlu diingat wanita memiliki kemampuan serta hak yang sama dalam membangun serta memberi perubahan yang lebih baik untuk bangsa ini.” – Audry Maura.

Inklusif • Kontributif • Progresif

Ditulis oleh Karania Salma Intan Candradewi (Admin Website Korwil IV)

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search