Diskusi Tim Keilmuan FKMHII Koordinasi Wilayah II

Menakar kembali misi Indonesia menjadi Dewan Keamanan Tidak Tetap PBB menjadi tema pembahasan pada diskusi pertama Tim Keilmuan. Diskusi yang turut mengundang beberapa perwakilan dari berbagai kampus di Kawasan Jadetabek diantaranya Universitas Paramadina, Universitas Moestopo, Universitas Indonesia, London School Public Relation, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Nasional, Universitas Pertamina, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, dan Universitas Kristen Indonesia sendiri tentunya sekaligus tuan rumah dalam diskusi yang berlokasi Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang. Pada 15 Juni 2019 hari sabtu. Momen yang paling pas tentunya, mengingat Indonesia baru saja menyelesaikan masa Kepresidenanya di DK PBB pada bulan Mei 2019 kemarin. Dalam diskusi kali ini mengundang pemantik yang juga merupakan Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)Andina Pesat Gatra dan ditemani oleh seorang moderator, merupakan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia, Bryan Libertho.

Tepat pukul 2 siang diskusi dibuka dengan sambutan dari Presnas FKMHII Korwil II. Muhammad Wicaksono, dilanjutkan dengan pemaparan singkat dari pemantik mengenai pengetahuan Umum Indonesia di DK PBB.

“Indonesia sendiri merupakan anggota tidak tetap dewan keamanan PBB dalam rentang 2 tahun. Tema Kampanye  Indonesia dalam PBB yaitu The true partner for World Peace, Isu Prioritas Indonesia salah satunya yaitu Isu Palestina serta Open Debate yang telah dilaksanakan  Indonesia ketika menjadi Presiden yakniPeacekeepingandbuildingtrainingcapacity&Protectiononcivillian in armconflict”.Jelas Andina atau yang biasa disapa Puput dalam presentasinya.

Selanjutnya, setiap peserta diskusi dipersilahkan untuk mengeluarkan argumennya masing-masing terkait pandangan terpilihnya Indonesia sebagai anggota tidak tetap DK PBB sekaligus posisi kepresidenan Indonesia di dalamnya.“Menjadi hal yang bagus untuk kemajuan Indonesia karena mendapatkan kepercayaan dari internasional untuk ikut serta menjaga perdamaian internasional.” Tutur Monica, Mahasiswi Universitas Pertamina. “Indonesia memiliki eksistensi, dan seharusnya dimanfaatkan oleh Indonesia dengan baik untuk memberikan peran dan menunjukkan tujuan berupa kerja nyata.” Papar Angel, Mahasiswi Universitas Nasional. Juga pernyataan dariIrfan,Mahasiswa Universitas Paramadina“Indonesia menjadi negara ASEAN pertama yang sudah menjadi anggota DK PBB selama 4 kali.”

Dalam pendapat dan argumen dari peserta lainnya pada akhirnya menimbulkan suatu pertanyaan mengenai ‘Mengapa isu Prioritas Indonesia terfokus pada Isu Palestina? Mengapa Isu maritim tidak dijadikan fokusutama, khususnya yang terjadi di South China Sea? Atau mengapa tidak turut mengikutsertakan isu kemanusiaan yang ada di Ronghiya, Myanmar yang wilayahnya masih dalam kawasan rehional yang di dalamnya terdapat Indonesia?’

Mengenai pertanyaan tersebut, dijawab oleh para peserta diskusi, Ivanno,Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta mengatakan“Dikarenakan posisiIndonesia  hanya menjadi anggota tidak tetap, indonesia bermain aman dan mengambil isu kontemporer bukan isu yang agresif”, “Efektivitas indonesia dalam membawa misi yang juga harus melihat posisi dari anggota DK tetap, karena di sana ada hak veto” lanjut Rezky, yang juga merupakan mahasiswi UPNVJ. Lalu mengenai fokus Indonesia pada Isu Palestina, Inaramahasiswi Universitas Indonesia mengeluarkan pendapatnya“Waktu yang tepat terpilihnya Indonesia dan menjadi perwakilan yang memang memihak negara-negara berkembang”, lalu Syauqi Mahasiswa London School Public Relation menyampaikan pendapatnya mengenai Indonesia yang fokus pada isu Palestina “Presiden Soekarno pernah mengatakanindonesia tidak akan berhenti untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestinadan juga karena isi dari Pembukaan UUD 1945 alineapertama yang menjadi landasan kebijakan luar negeri Indonesia.”.

Selanjutnya mengenai isu Ronghingya danisuMaritim yang tidak disertakan dalam fokusutama Indonesia dalam DK PBB, “Karena Indonesia sudah lebih dulu dalam hubungan bilateralnya dengan Myanmar untuk membuka jalur bantuan Indonesia ke rohingya” ungkap Nida Tsabitah, Mahasiswi Universitas Al Azhar Indonesia. Lalu Melati dari Universitas Paramadina juga mengeluarkan pandangannya “Isu Kemanusiaan di Rohingya memiliki urgensi yang sama penting dengan isu Palestina, pindahnya 700 ribu warga ke negara-negara tetangga yang akhirnya bisa mendorong gerakan ekstremis”. Syauqi dari LSPR pun mengingatkan bahwa fokus utama Presidensi Indonesia di masa mendatang akan membawa isu terkait gerakan ekstremis seperti gerakan radikal dan terorisme. Lalu soal Isu Maritim khususnya LCS yang tidak dibawa dalam fokus utama Indonesia, Andina selaku pemantik mencoba menjawab “Indonesia dalam menentukan 4 prioritas dalam agendanya di DK PBB, dibuat smooth dan tidak agresif sedemikian rupa, menyembunyikan fokus asli dari Indonesia sendiri.” Tentunya mengingat adanya dua kekuatan besar yang turut serta memegang peran dalam isuSouth China Sea dan keduanya juga memegang hak veto dalam DK PBB. Serta hubungan perekonomian Indonesia yang memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi dengan keduanya, menjadikan alasan Indonesia tidak mengangkat isu maritim yang dinilai cukup sensitif.

Pukul 15.45, Diskusi ini pun diakhiri oleh kesimpulan dari tiap peserta diskusi dan closing statement dari pemantik. “Indonesia sebagai negara ke 8 dari 124 negara yang memasok pasukan perdamaian, melalui itu diharapkan Indonesia dapat berkontribusi lebih banyak untuk perdamaian. Indonesia selama 2 tahun ini juga harus memanfaatkan kesempatan yang ada sebagai mediator. Diharapkan Indonesia harus bijak yang melibatkan interest Indonesia sendiri. Diplomasi batik yang dilakukan Indonesia sangat baik, Indonesia juga mendapatkan apresiasi dari beberapa perwakilan negara.Faktor foundingfathers, geografis, dan kondisi yang stabil ketika menyelesaikan isu regional banyak negara yang optimis Indonesia menjadi negara yang memiliki power.

Harapan dari peserta diskusi mengenai misi Indonesia di DK PBB yakni langkah selanjutnya diharapkan Indonesia bisa fokus pada krisis kemanusian di negara lain seperti Yaman, Rohingnya. Masih banyak isu global kontemporer yang juga memiliki tingkat urgensi yang sama. Dan fokus Indonesianantinya juga diharapkan mengarah pada wilayah-wilayah yang ada disekitar Indonesia.  Terakhir, harapan dari Andina selaku pemantik yaitu melalui diskusi kali ini para peserta diskusi dapat turut serta menebarkan tanggapan atau pendapatnya melalui tulisan sehingga nantinya kalangan masyarakat awam pun juga dapat merasakan manfaatnya.

Pukul 16.00, diskusi ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Presnas FKMHII Korwil II, Muhammad Wicaksono. Dan diakhiri dengan foto bersama. Diharapkan nantinya para peserta diskusi kali ini mengikuti rangkaian diskusi selanjutnya yang diadakan bersama para akademisi ahli, dan bagi kalian yang penasaran bagaimana keseruannya sangat diperbolehkan untuk hadir!



Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search