SPECIAL ECONOMIC ZONE OF BITUNG: KOMPETITOR BARU SINGAPURA ?

Kawasan Ekonomi Khusus adalah kawasan dengan batas tertentu dalam suatu wilayah untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian. KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi yang berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. Dalam rangka percepatan pembangunan ekonomi nasional, pemerintah pusat telah mengembangkan suatu konsep percepatan pembangunan yang disebut MP3EI (Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia), yang secara umum bertujuan untuk mendorong peningkatan nilai tambah Sektor-sektor unggulan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan energy serta pembangunan SDM dan IPTEK di Indonesia.

Pengembangan KEK bertujuan untuk mempercepat perkembangan daerah dan sebagai model terobosan pengembangan kawasan untuk pertumbuhan ekonomi, antara lain industri, pariwisata, dan perdagangan sehingga dapat meningkatkan lapangan pekerjaan. Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus diarahkan untuk memberikan kontribusi optimal dalam pencapaian 4 (empat) agenda prioritas nasional yang tertuang di Nawacita, yaitu:

  1. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah – daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan;
  2. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia;
  3. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional;
  4. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor – sektor strategis ekonomi domestikIndonesia sejatinya adalah negara maritim besar di dunia. Penguatan sektor perairan atau kelautan tentu menjadi satu fokus utama dari pemerintah. Karena penguatan di sektor ini berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan yang tentu dapat mendukung pertumbuhan perdagangan dan meningkatnya jalur perdagangan maritim. Sebanyak 24 pelabuhan di seluruh Indonesia sedang dikembangan oleh pemerintah saat ini. Diantaranya, dua proyek besar yang sedang digarap pemerintah adalah pembangunan dua pelabuhan internasional kelas dunia, yaitu Pelabuhan Kuala Tanjung Sumatra Utara dan Pelabuhan Bitung Sulawesi Utara. Dua pelabuhan ini diharapkan menjadi gerbang logistik laut bagian barat dan timur Indonesia.

    Terkhusus untuk Bitung, wilayah ini akan dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus atas usulan dari Gubernur Sulawesi Utara dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus pada tanggal 16 Mei 2016 dan atas dasar hukum UU Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Bitung memiliki lokasi yang sangat strategis dan merupakan pintu gerbang serta jalur laut ekonomi ke dan dari negara-negara di Asia Pasifik. Salah satunya adalah sebagai jalur pusat ekspor yang terhubung langsung dengan kawasan selatan Filipina, Davao City dan General Santos City. KEK Bitung diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan dan distribusi barang serta penunjang logistik di kawasan timur Indonesia.

    Luas total wilayah KEK Bitung adalah 534 ha. Kawasan ini akan memberatkan pada komoditas unggulan Sulawesi Utara yang dikenal sebagai salah satu penghasil ikan terbesar di Indonesia dan didukung dengan industri perikanan yang memiliki kualitas berstandar internasional. Selain perikanan, proyek utama di kawasan ini adalah pengelolaan kelapa, logistik, dan farmasi. Proyek-proyek pendukung pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus ini antara lain Pelabuhan Internasional Bitung, Tol Manado – Bitung, perpanjangan landasan Bandara Sam Ratulangi, pembangunan distribusi air, dan pembangkit listrik. Selain itu, ada kawasan industri Tanjung Merah seluas 512 hektare sebagai daya tarik investasi. Kawasan Tanjung Merah akan menjadi basis tiga kelompok industri, yakni industri berbasis sumber-sumber daya alam (20-25 persen), industri pendukung untuk pengolahan ikan (40 persen), dan industri kemasan (40 persen).

    Namun, adanya wacana pembukaan daratan Thailan untuk pembuatan Terusan di daerah Kra menjadi salah satu permasalahan yang mengancam jalur perdagangan maritim Indonesia. Banyakyang menilai Kra Canal tidak akan menjadi ancaman yang berarti untuk Indonesia yang notabene adalah poros maritim dunia. Tapi, ada pula yang beranggapan bahwa pembukaan Terusan Kra jelas akan mempengaruhi tingkat perdagangan di wilayah Indonesia terutama di Selat Malaka. Tetapi, hal ini tidak mempengaruhi ambisi pemerintah dalam menguatkan sektor maritimnya. Bahkan, pembangunan yang dilakukan salah satunya untuk bersaing dengan Singapura, negara tetangga Indonesia yang sumber devisa besarnya salahsatunya dari pelabuhan dan perdagangan seperti di Rotterdam, Belanda. Efek dari pembangunan ini akan sangat signifikan terhadap peningkatan perekonomian daerah dan bahkan perekonomian Indonesia. Tetapi hal ini juga menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia, seraya dengan pembangunan infrastruktur, pembangunan kualitas SDM juga harus sejalan.

     

     

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search