STUDENT JOURNAL KORWIL 1 : Peran Indonesia Dalam Politik Regionalisme Diskursus Akselerasi Resolusi Problematika Terorisme di ASEAN

(Arina Nihayati / 1601114507 / Universitas Riau)

Istilah Asia Tenggara (South East Asia) pertama kali digunakan pada istilah Pakta Pertahanan Amerika Serikat, yakni SEATO (South East Asia Treaty Organizations). Kemudian nama ini dipergunakan untuk perhimpunan negaranegara Asi a Tenggara di ASEAN (Association South East Asia Nations). Asia Tenggara menjadi tempat bertemunya agama-agama besar baik yang berbasis agama tradisional Asia (agama Ardli) ataupun agama Timur Tengah (Samawi). Pengaminan agama-agama ini disusul oleh berbagai konflik yang mengatas namakan agama. Meskipun hal ini bukanlah hal absolut atas interpretasi pemeluk agama dalam ajaran kitab suci yang tidak di maknai monolit.
Terorisme berbeda dengan konflik suku atau agama Asia Tenggara yang masuk ke dalam ranah konflik yang mudah dimobilisasi pada konflik ideologis. Terorisme telah menjadi konflik transnasional dan kejahatan luar biasa. Menjadi terang saat terorisme menjadi penguat negara-negara dalam perjanjian ataupun kerjasama yang di klasifikasikan Barry Buzan sebagai enmity (hubungan atas dasar rasa takut dan curiga) dalam security complex.1 Terorisme sangat sulit dielaborasikan hingga hari ini, begitu juga agama yang menjadi kambing hitamnya. Terorisme sendirinya menjadi fenomenal sejak deklarasi Amerika Serikat tentang (perang melawan terorisme) War on Terrorism, menjadi buntut atas tragedi 11 September 2001.
Ketidak konsistenan AS dalam mendefinisikan terorisme seakan menginterpretasikan bahwa terorisme yang didefinisikan AS adalah pihak-pihak yang mengancam kepentingan AS. Sebab merujuk pada Undang-Undang Anti Terorisme AS berkaitan dengan penggunaan kekuatan (force) dalam mencapai tujuan politik internasional. Menurut undang-undang tersebut, ada dua kelompok yang masuk kedalam kategori tersebut:
a. Bangsa atau kelompok yang menggunakan kekuatan

1 Angga Nurdin, Keamanan Global, (Bandung: Alfabeta Press, 2015), hlmn 34
b. Bangsa-bangsa yang membuat keputusan berdasarkan ideologi dan berdasarkan ideologi itu mereka menggunakan kekuatan.2
Kalau pengertian diatas digunakan secara konsisten untuk mendefinisikan terorisme maka AS lah patut disebut sebagai aktor paling besar dalam dunia teror internasional. Menggunakan ideologi Kapitalisme dalam beberapa konflik dan menggunakan senjata dalam menanganinya. Sebut saja bom atom Hirosima Nagasaki dan bom Napalm dan Agent Orange di Vietnam yang meluluh lantahkan tanah disana. Begitu juga tindakan AS di Kuba, Granada, Afghanistan, Irak dan Palestina. Namun, pasca Perang Dingin keamanan beralih pada kemamanan nontradisional, ancaman teror menjadi salah satu aspeknya.
Pada bom Bali 2002 mulai membangun sekrup-sekrup penegak interpretasi massal internasional terhadap siapa sosok teroris di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Ledakan yang terdengar hingga radius 20 km dari tempat kejadian, jl.Legian, Pantai Kuta, Bali. Sangkaan berbulan-bulan terhadap kelompok Al-Qaida di Indonesia yang ditangkis oleh Hamzah Haz, wakil presiden Indonesia saat itu. Kedatangan agen CIA (Central Agency of America) dengan presiden Megawati pada 16 September 2002 untuk menyerahkan Abu Bakar Ba’asyir dibeberkan oleh Freed Burks, seorang penerjemah kontrak spesialisasi Indonesia Mandarin di Deplu AS.3 Presiden kala itu menolak karena penyerahan Abu Bakar Ba’asyir akan mempengaruhi perpolitikan domestik saat itu diskursus menyulut konflik agama. Benar adanya, 3 minggu setelah pertemuan rahasia tersebut bom bali meledak. Anehnya pada 13 Oktober, situs Institue for Counter-Terrorism (ICT) milik Israel telah terpampang laporan ‘investigasi’ yang berisi militant Islam yang terkait AlQaida bersarang di Indonesia setelah pemboman induk USS Cole milik Amerika.
Bukan tanpa alasan AS menjadikan Indonesia sebagai sasaran. Indonesia yang berada di Asia Tenggara memiliki populasi muslim terbesar. Menjadi hal yang menarik saat salah satu agama yang dijadikan sasaran gambaran teroris menjadi titik lemah akurat. Ditambah lagi saat itu ASEAN belum memiliki kerjasama

2 Dr.Mardenis, SH., M.Si, Pemberantasan Terorisme, (Jakarta: Raja Grafindo Press, 2011), hlmn 87 3 Wawan H Purwanto, Terorisme Undercover: memberantas terorisme hingga ke akarakarnya, (Jakarta: Cipta Mandiri Bangsa, 2007) hlmn 225
khusus terkait persatuan melawan terorisme. Paronia konstruktifis turut andil dalam platfrom definisi fisik dari sosok pelaku terroris yang digambarkan dengan balutan ‘seakan’ menggiring opini publik pada tampilan yang khas. Perkembangan penduduk Indonesia yang pesat dengan mayoritas beragama juga mendapat porsi lain saat ini. Namun, tidak dapat dielakkan pemahaman radikal ekstrimis tanpa manusiawi menghalalkan darah korban teror. Ini dapat tergambar dengan munculnya terroris Lone Wolf, teroris yang berjalan tanpa komando dari jaringan teroris internasional. Lone Wolf mereduksi akar radikalisme dengan pemahaman individual tanpa remote control dari pusat teroris internasional.4
Hal ini menjadi relevansi pernyataan Angga Nurdin dalam literasinya Keamanan Global, masuk kedalam Fifth Generation Warfare yang menjadikan cyberspace dan tidak adanya center of gravity pada perang modern. Masuknya AS sebagai salah satu pemeran dalam gulungan historis bom Bali semakin mengentalkan bahwa regulasi akan terorisme di Indonesia dan ASEAN masihlah lemah. Hal ini dapat memicu visi misi ASEAN menjadi terhambat atau bahkan hanya bagaikan kura-kura dalam tempurung.
Resolusi konflik permasalahan teror sedikit mendapat angin segar pada 4 Juni 2018. Kemenko Polhukam RI membahas mengenai kerjasama pemberantasan terorisme dan cyber crime oleh Australia. Pertemuan ini menghasilkan 3 keputusan:
a. Keputusan keberlanjutan kerjasama melawan aksi teror dan cyber crime b. Pertemuan khusus dengan pihak negara lain Australia, New Zealand, Brunei Darussalam, Malaysia dan Filipina c. Akelerasi kemampuan cyber Indonesia dengan negara lain
Kerjasama ini memperkuat regulasi dan tindakan yang harus dihadapi negaranegara Asia Tenggara dan negara lain yang mengikuti kerjasama ini. Apabila kerjasama ini mendapatkan bulir dalam ASC (ASEAN Security Community) merupakan hal yang baik bagi negara-negara ASEAN. Politik revolusi pertahanan yang Indonesia ambil diskursus kerjasama dengan beberapa negara ASEAN ini mampu merubah steriotip akan multikulturalisme Asia Tenggara. Meskipun

4 Lewis W Dickson, Lone Wolf Terrorism, Journal, (Malmo University: Faculty of Health and society, Departement of Criminology, 2015), di akses pada 28 Oktober 2018
kerjasama ini terbilang baru dan belum mendapatkan hasil apakah resolusi konflik yang diambil oleh Indonesia ini dapat meeredam teror yang terjadi tanpa prediksi. Namun, hal yang menjadi pasti mengkerdilkan intervensi negara adidaya baik dalam konspirasi yang diusung ataupun sebagai penguat politik regionalisme atas dasar ketakutan di ASEAN dan pendefinisian konkrit terorisme itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Nurdin Angga, 2015, Keamanan Global, (Bandung: Alfabeta Press)

Dr.Mardenis, 2011, SH., M.Si, Pemberantasan Terorisme, (Jakarta: Raja Grafindo Press)

H Purwanto Wawan, 2007 terorisme undercover: memberantas terorisme hingga ke akar-akarnya, (Jakarta: Cipta Mandiri Bangsa)

W Dickson Lewis, Lone Wolf Terrorism, Journal, (Malmo University: Faculty of Health and society, Departement of Criminology, 2015), di akses pada 28 Oktober 2018

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search