FOCUS GROUP DISCUSSION FKMHII KORWIL IV

Focus Group Discussion FKMHII Korwil 4

Pentingnya Bali Democracy Forum (BDF) bagi Perkembangan Demokrasi di Indonesia dan Dunia

Sabtu, 25 Maret 2017

Focus Group Discussion kali ini merupakan FGD pertama yang diselenggarakan oleh Divisi Litbang FKMHII Korwil 4.  Terdapat setidaknya 20 peserta yang berasal dari Universitas-Universitas yang berada di Korwil 4. FGD kali ini dipandu oleh Khalid Hidayat selaku moderator.

  1. Apa yang masih harus ditingkatkan dari Bali Democracy Forum?
  • Pertama, untuk permasalahan Bali Democracy Forum, kami pikir ini sangat bagus secara konseptual yang mana dia punya tema-tema yang spesifik. Yang kedua, dengan berangkat bahwa kondisi Indonesia adalah negara yang masih menjalankan proses demokrasi, Bali Democracy Forum ini sangat baik untuk Indonesia. Maka dari itu, Bali Democracy Forum juga mengundang berbagai negara khususnya asia untuk kemudian saling berutkar informasi dengan tiap-tiap negara. Kegelisahan kami adalah bagimana Bali Democracy Forum tidak berhenti dengan Indonesia berani mengundang berbagai negara tapi tidak dapat menjalankan secara praktis. Memang ini adalah hal yang baik bagi proses demokrasi indonesia karena ada konteksasi namun Bali Democracy Forum cenderung untuk berhenti ketika gong penutupan forum tersebut selesai. Kemudian, adakah tindak lanjut dari pendiskusian tersebut berupa pengimplementasiannya?
  • Indonesia Peace and Democracy belum bisa menjelaskan peran konkrit dari Bali Democracy Forum ke rakyat Indonesia itu sendiri. Kami melihat bahwa Bali Democracy Forum belum menyentuh titik substansi yaitu praktik.
  • Apakah hasil dari forum benar benar dilakukan oleh Indonesia Peace and Democracy itu sendiri? Walaupun demokrasi Indonesia mengalami kemajuan namun apakah itu efek langsung dari Bali democracy forum? Indonesia sendiri masih banyak memiliki masalah terkait demokrasi.
  • Demokrasi masih kurang dalam keterbukaan informasi public, transparansi demokrasi. Bali Democracy Forum masih terpengaruh oleh budaya diskusi regional organisasi-organisasi regional di asia tenggara yang memang masih sebatas diskusi biasa, belum menyentuh titik substansial.
  • Bali democracy forum diharapkan tidak hanya sekedar bincang-bincang menghabiskan uang Negara melainkan menghasilkan output atau resolusi yang walaupun sedikit dapat diimplementasikan, contohnya seperti policy brief.
  • Tidak ada progress report dari topic spesifik yang dibahas di Bali Democracy Forum selama 9 tahun dilaksanakannya Bali democracy forum ini. Perlu ada arus top-down antara pemerintahan dan masyarakat yang sinergis. Salah satu organisasi internasional yang ikut serta dalam Bali democracy forum adalah MSG yang kemudian menginginkan papua itu lepas dari Indonesia, akan tetapi tidak ada langkah konkrit dari mereka itu sendiri. Masih ada missing link/alur komunikasi yang masih harus ditingkatkan dari bali democracy forum.
  • Perlu ada target konkrit dari setiap BDF agar ada titik acuan sukses tidaknya program. Contoh paris agreement. Negara-negara di dunia sepakat bahwa untuk suhu bumi tidak boleh lebih dari 4 derajat celcius.
  • Perlu adanya resolusi BDF tiap tahunnya agar delegasi tertarik untuk menyuarakan permasalahan. Ketika kita brbicara mengenai resolusi, di dalam resolusi itu sendiri ada konteksasi ide. Ketka LSM tidak ingin ikut dalam Bali democracy forum itu, apabila sudah ada reolusi pada waktu itu maka LSM tersebut mungkin saja kembali ingin mengikuti. Konsep BDF ini sendiri yaitu menggunakan demokrasi pancasila yang mengutamakan keseragaman dan kesatuan, ketika membicaran implementasi reolusi, kita tidak dapat memaksakan mereka untuk melaksanakannya. Karena didalam BDF ini demokrasi itu dijalankan sesuai dengan sejarah dan kebudayaan negara tersbeut
  • Perlu ada peran akton non Negara seperti NGO dan LSM. Namun apa tendensi untuk mengambil peran? Perlu ada urgensi dan kewajiban bagi actor non Negara tersebut. Ide ide, topic, dan sebagainya berasal dari actor non formal dan inilah yang harus disambut oleh BDF agar mengikutsertakaan actor non-negara. Kemudian standar seperti apa yang digunakan untuk mengambil peserta forum? Menurut kami, indikatornya yaitu berangkat dari permasalahan yang sedang dibahas di forumnya. Actor yang terkait dengan bahasan, itu yang di undang menjadi delegasi forum. Lalu, actor yang memiliki signifikasi dengan demokrasi.
  • Bali democracy forum harus take attention terhadap forum-forum diskusi terkait salah satunya seperti FGD ini. Setiap individu yang berada di dalam forum dapat memberi minimal satu informasi atau opini yang dimana nanti akan berpengaruh dalam pengambilan keputusan forum besar seperti BDF. Indonesia hanya focus melihat bagaimana posisinya di dunia internasional tanpa membenahi apa yang ada di dalam “rumahnya”.
  • Perlu ada badan yang membawahi Bali Democracy Forum agar lebih bertanggung jawab dan mengikat atas output yang dihasilkan pasca forum. Ada yang diaplikasikan pasca forum, tidak hanya sebatas secarik kesimpulan. Negara yang ikut serta bergabung dalam Bali democracy forum berkomitmen atas forum yang dijalankannya tersrebut sehingga ada pertanggungjawaban moral untuk mengaplikasikan output forum nanti.
  • Perlu re-discuss atas kesimpulan forum. Sistematika dan alur forum diperpanjang sehingga kesimpulan tersebut benar-benar matang dan perkembangan atas pengaplikasian kesimpulan dapat selalu dikontrol.
  • Kementrian luar negeri perlu membuat forum bagi mahasiswa antar negara dalam menentukan tema perihal demokrasi dan membahasnya dalam forum yang dibuka tersebut. Indonesia perlu untuk membentuk agen-agen yang memiliki pengaruh termasuk kita sebagai mahasiswa juga dilibatkan, dalam artian kita punya tempat untuk bisa menularkan ke sesama mahasiswa itu sendiri. Itu benar-benar patut menjadi prioritas utama dalam Bali democracy forum itu sendiri.
  • Perlu diketahui bahwa BDF itu merupakan ‘Forum’ dimana setahu kami, yang namanya forum itu hanya merupakan sarana atau media kita untuk bertukar pikiran atau sharing terkait masalah-masalah yang dibahas. Ketika itu hanya sebuah forum, hasil atau implementasi dari forum itu sendiri tidak mengikat. Bali democracy forum itu tidak ada badan yang benar-benar menaungi mereka. Itulah mengapa banyak yang menatakan hasil dari Bali democracy forum itu sendiri kurang optimal. Kenapa menggunakan nama Bali? Karena ada kekhawatiran jika menggunamakan kata Indonesia, maka forum tersebut tidak laku (marketing). Lalu kita sebagai mahasiswa harus punya inisiasi yang lebih. Kenapa kita tidak mecoba untuk mensosialisasikan Bali Democracy Forum itu melalui social media? Memang terlihat sepele, tapi ketika orang-orang membaca, maka mereka akan tahu. itu adalah contoh simpel terhadap sosialisasi dari bali democracy forum itu sendiri.

  1. Apakah Bali Democracy Forum telah menjadi wadah yang mampu meningkatkan kualitas demokrasi di dunia?
  • Kami belum yakin bali democracy forum telah menjadi wadah yang mampu meningkatkan kualitas demokrasi di dunia karena Bali Democracy forum belum menyentuh ranah substansi sehingga tidak ada langkah nyata dan hasil nyata kepada demokrasi dunia.
  • Soft diplomacy antar Negara yang dibangun melalui forum ini nanti akan menguatkan posisi di kacamata internasional terutama bidang demokrasi.
  • Dengan youth bali democracy forum dapat membuka mata pemuda seluruh dunia untuk semangat menyuarakan pendapatnya terkati isu-isu demokrasi pada Negara masing-masing serta demokrasi antar Negara.
  • Menurut Presiden Negara kesatuan republik Indonesia yang kelima yaitu bapak Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2010, Bali democracy forum memberi bagian kepada setiap delegasi untuk memaparkan progress report dari negaranta, Contohnya adalah Arab spring yang memang tercatat sukses dan juga pemilihan umum di myanmar

  1. Bagaimana peran Bali Democracy Forum bagi demokrasi Indonesia?
  • Kalau untuk peningkatan demokrasi, kami masih meragukan. Tetapi, untuk membangun citra Indonesia sebagai Negara demokrasi itu sangat memengaruhi. Mengapa masih meragukan? Karena Bagi kami, ketika BDF sekadar tidak hanya menjadi acara bincang-bincang yang menghabiskan uang negara, akan tetapi jika benar-benar berguna atau paling tidak ada hasil bagi seluruh peserta bagikami itu ada dampaknya. Ketika BDF berani menghasilkan sesuatu, bagi kami ini adalah proses yang baik terutama di wilayah Asia tenggara yang mana demokrasinya berjalan secara dinamis.
  • Bali democracy forum digunakan sebagai soft diplomacy. Indonesia membangun citra melalui ini. Dengan usaha ini, dapat menolong posisi Indonesia di dunia internasional sehingga memungkinkan Negara lain menanamkan modal (kerjasama bidang perekonomian).
  • Bali democracy forum digunakan sebagai ajang mencari citra diri dan bilamana berhasil, itu dapat menjadi motivasi untuk mengoreksi diri.
  • Meningkatknya kerjasama bilateral dan multilateral antara Negara lain dengan Indonesia.

Kesimpulan

Sebenarnya akan sangat menarik apabila Indonesia tetap mengikuti bali democracy forum yang akan berlangusng pada desember 2017 nanti. Indonesia sebagaimana sebagai inisiator mampu melakukan itu dengan baik. Memang agak menarik ketika bahkan di tingkat dasar pun kita melakukan standarisasi. Inilah tugas kita sebagai mahasiswa untuk bisa menyebarkan mengenai informasi tentang BDF ini di universitas masing-masing. Tentu kita berharap bahwa Bali democracy forum membawa manfaat yang lebih tidak hanya Negara-negara yang mengikutinya termasuk juga tuan rumah. Mengenai ekspor tentang bali democracy forum, meskipun tidak absah tapi juga bisa dijadikan sebagai panutan. Lalu, untuk Youth Bali democracy forum, ini adalah isi yang baru akan dibahas pada rapat koordinasi wilayah IV. Akan menajdi agenda yang berada dibawah naungan Kementrian luar negeri. Bali democracy forum juga merupakan sarana soft diplomacy untuk mencitrakan diri bahwa kita adalah negara yang baik dalam hal demokrasi.

 

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search