MERDEKA; BEBAS DAN SEJAHTERA

Oleh:

Rijalir Rohim

UIN Sunan Ampel Surabaya

          Indonesia adalah negeri yang kaya. Karena itu, tidak mustahil  negeri kita menjadi incaran emas bagi negara-negara lainnya termasuk belanda dan jepang. Indonesia telah merasakan pedihnya dirampas hak dan tanah airnya. Bangsa harus menjadi budak di negara sendiri, perjuangan merebut kedaulatan negara tidak hanya mencucurkan keringat tetapi juga darah juang yang mengalir segar menjadi taruhannya. Seluruh masyarakat harus tidur beralaskan air mata dan berbantal berjuta-juta harapan kebebasan belenggu koloni. Cacingpun, yang diinjak bergerak kanan kiri lebih –lebih manusiaa yang terinjak itu berusaha melepaskan dirinya dari injakan`itu[1]. Si kaya dan si miskin berbaur satu padu berperang dengan tentara besi koloni. Persatuan yang diutamakan dan pintu kemerdekaan yang menjadi pusat tujuan. Bagaimana kita membayangkan kenangan pahit kala itu, tidak sebanding dengan hasil jerih payah para pejuang saat ini. Indonesia telah diakui, Indonesia telah bebas dari belenggu koloni, Indonesia telah menentukan nasib negaranya sendiri, Indonesia telah bersatu padu dalam Bhineka Tunggal Ika untuk mempertahankan kedaulatan. Saat itulah pembacaan kertas sakral yang disaksikan oleh berjuta-juta pejuang. 17 Agustus 1945 telah menjadi hari yang diagungkan bangsa Indonesia. Isak tangis haru dan tawa bahagia bercampur dengan tegasnya pembacaan teks proklamasi yang dibacakan langsung oleh presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno.

          Kemerdekaan senantiasa menghasilkan kesan dan arti yang sangat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Dengan kemerdekaan, berart Indonesia telah bebas dari segala bentuk penindasan dan penguasaan paksa hak tanah air bangsa sendiri. Dengan kemerdekaan pula berarti Indonesia telah naik tingkat dalam perjuangan selanjutnya . yang semula kita berjuang mengambil kedaulatan yang dirampas koloni, kini kita berjuang untuk selalu mempertahankan dan mengisinya dengan pergerakan perubahan. Gerakan perubahan pun tidak secara merta kita berubah dari yang sebelumnya. Gerakan perubahan merupakan suatu tindakan pergerakan individu maupun kelompok untuk meningkatkan mutu dan atau nilai-nilai bangsa. Tetapi banyak sekali kita menemukan rakyat yang mengartikannya secara tekstual, hal ini banyak sekali kita temui pada kaum yang disebut-sebut Agent of Change negara yaitu pemuda-pemudi bangsa. Mereka lah tombak emas bagi bangsa Indonesia. Karena melalui mereka-lah suatu bangsa dikatakan maju ataupun hancur. Tidak heran jika sekarang pemuda-pemudi sangat berdampak pada kemajuan bangsa Indonesia. Jika ditanya apakah Indonesia sudah merdeka sepenuhnya? Jawaban tegas pasti mengatakan belum. Karena kemerdekaan adalah bebas dan sejahtera. Bangsa masih terbelenggu oleh penjajahan yang paling ditakutkan bahkan merusak bangsa indpnesia jika tidak dipertahankan dan atau dilawan oleh kita sendiri. Dikatakan masih terjajah karena sikap dan peran pemuda-pumudi bangsa yang kurang memperhatikan terhadap negara sendiri. Mereka telah dijajah mindset-nya terhadap suatu hal yang masuk ke bangsa kita. Mereka cederung ingin dinilai sebagai pemuda yang gaul dan mengikuti style kekinian. Budaya-budaya asing telah menjadi budaya yang diakui oleh dirinya sendiri tanpa menyadari bahwa budaya negeri telah mereka lupakan. Tidak melupakan tetapi tidak dipertahankan bahkan diganti dengan budaya asing. Tidak mengganti tetapi menjadikan budaya asing sebagai kehidupan utama yang diutamakan. Mereka tidak menyadari bahwa nenek moyang kita yang merelakan darahnya untuk mempertahankan budaya bangsa sendiri. Karena itulah, kini pemuda-pemuda telah perlahan mengikis kedaulatan negaranya sendiri,sungguh begitu ironisnya bangsa ini. Karena itu kita tidak sulit menjumpai kasus pemuda-pemudi yang terjangkit miras, sex bebas, tawuran antar kelompok bahkan narkoba.

          Kemerdekaan yang harus diisi pula yakni bebas dari penjajahan fisik, ekonomi bahkan politik. Rakyat kita masih dalam lingkaran kemiskinan. Sistem perekonomian yang sangat minim disebabkan oleh banyak faktor. Tetapi yang jelas adalah budaya kotor penguasa negara kita sendiri yang melakukan  korupsi negara. Bayangkan saja, uang negara, uang berjuta-juta rakyat yang sangat membutuhkan dicuri seenaknya olehnya apalagi beberapa orang yang melakukan korupsi berikutnya? Sungguh masih membuat Indonesia terjajah miskin karena ulah penguasa negara sendiri. Faktor itu pula dikarenakan rakyat yang masih terbelenggu oleh kebodohan. Karena miskin menggerogoti nasibnya, rakyat jelata tidak bisa mencerdaskan dirinya. Padahal kesejahteraan Indonesia ada pada semua kalangan, tergantung tekad dan perjuangan. Jika dahulu si miskin dan si kaya sama sama berjuang mendapatkan kedaulatan, sangatlah mudah untuk didapatkan. Tetapi di era yang terjajah dengan kemiskinan dan kebodohan ini, bangsa sangat sulit untuk menyelesaikannya. Bahkan lebih sulit lagi sistem jajahan yang tidak adil bagi bangsanya. Hanya karena si miskin bodoh dan terciduk suatu pidana ringan, keadilan seperti tak berlaku baginya. Bahkan penguasa yang telah merenggut nasib dan kecerdasan si miskin dengan korupsi, masih bisa berlenggak-lenggok kesana-kemari bebas membeli suatu hukum yang menjeratnya. Lambang merah pada bendera Indonesia menunjukkan tekad, keberanian dan persatuan negara, putih berarti rakyat yang jujur, bersih dan saling mengayomi. Kedua arti bendera itu seperti hanya sebuah bedera tanpa arti. Masih banyak yang korupsi,saling menyakiti antar golongan dan mencapai tujuan individu. Yang tinggi semakin menguasai dan yang rendah semakin diinjak.

          Merdeka berarti bebas dan sejahtera, bebas dan sejahtera berarti berani melawan, melawan berarti cerdas dan pandai bertaktik (politik), berpolitik ada dalam sebuah miniatur organisasi. Semangat juang bangsa kita setelah kemerdekaan kolonial sebelumnya terletak pada bangsa yang memotivasi diri sendiri untuk bersumbangsih ke negeri sendiri. Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) UIN Sunan Ampel Surabaya selalu berusaha mewujudkan tekad untuk ikut berjuang membebaskan belenggu dari kebodohan,kemiskinan dan ketidakadilan. Kami menyadari bahwa organisasi mengajarkan suatu persatuan dan tujuan yang sama, layaknya persatuan rakyat dahulu memperjuangkan kedaulatan bangsa, mengasah pikiran agar dewasa menghadapi suatu masalah baik internal maupun eksternal. Organisasi mengajarkan kami untuk selalu berjuang dalam menghadapi kebodohan dan ketidakadilan sehingga kami siap dan bisa menjadi genarasi pejuang bangsa Indonesia berikutnya. Nantinya kami bisa melahirkan pejuang yang unggul untuk kebebasan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Karena itu, kami kami tidak pernah putus asa untuk kemajuan bangsa. Ditangan kami tergenggam kemerdekaan Indonesia, yakni tekad, persatuan, kepandaian dan peradaban.

[1] Tan Malaka, Semangat Muda (Surabaya: Literasi Pers, 2016), Hlm.80.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search