EU After Brexit, is Regionalism still relevant?

Abstract

Regionalism is a study about integration of some region who cooperates together to fulfill their common goals. Regionalism is also known as Region Studies. In the beginning, regionalism appears from the integrations of states that are in a certain region and geographical. The perfect of Regionalism believes happen when the nations are willing to give their sovereignty to the ‘head of region’ and it was ever happened as USSR for instance. Some international relations students believe that regionalism is happened a long time ago when an empire works with their ‘imperium”. As time goes by the new Regionalism after cold wa , the new Regionalism is based on structurize multipolar interaction and initiates by country because of the same needs to cooperate to reach their common goals. The new Regionalism brings some changing into the regionalism itself that the new regionalism tends to ever-deepening integration, the ever depening integration is somehow dangerous for increasing marginalized country in regionalism system. European Union is one of a global actor of International relations that being a startup of new regionalism concept. This Journal will give an answer to the relevantion of regionalism after United Kingdom choose to withdrawn from European Union and its impact to another regional institution.

The beginning of Regionalism

Regionalisme adalah integrasi antara negara negara yang berdekatan secara geografis, diidentifikasi dari kedekatan budaya,adanya hubungan ekonomi yang saling bergantung dan saling menguntungkan dan memiliki kesamaan keikutsertaan dalam organisasi internasional ( Raymond F.Hopkins dan Richard W.Mansbach : 1973). Konsep regionalisme sebenarnya secara tidak sadar telah diterapkan sejak berdirinya USSR dimana bangsa Rus Kiev, Rus Soviet, Rus Moskow, Rus Tatar mongol dan Rus Peter bersatu dibawa naungan imperium modern yang disebut “Uni Soviet” yang akhirnya menjadi kekuatan supranasional yang hegemonik. Dalam konsep regionalism lama yang berjalan dalam imperium tersebut bangsa-bangsa (rus) menyerahkan kedaulatannya pada sistem supranasional dimana mereka menganut dari ideology, bahasa, nilai dan norma yang sama. Saat itu juga hanya terdapat satu partai yang berkuasa dan diakui rakyat yaitu Communist Party of Soviet Union. Model seperti itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal bagaimana sekelompok negara memiliki harapan dari keberadaan institusi regional yang ‘sempurna’.

Regionalism adalah sebuah teori atau praktek dari mengkoordinasikan unsur
sosial,ekonomi dan aktivitas politik dalam suatu wilayah geografis yang terdiri dari sejumlah
negara.dalam level institusional, regionalism mencakup pertumbuhan norma, aturan, dan stuktur
formal. Alternatif lainnya yang dapat digunakan untuk memudahkan pembaca dalam memahami
regionalism adalah melihat pada identitas sosio-kultural, yang mecerminkan kesamaan
agama,bahasa, sejarah atau bahkan ideologi yang dianut diantara negara-negara tetangga. Bicara
mengenai identitas regional, Identitas regional tidak saling ekslusif pada negara negara dalam
suatu institusi regional karena hal tersebut tidak sesuai dengan identitas nasional. Dapat
dikatakan bahwa identitas regional dalam sebuah institusi regional adalah wilayah yang secara
politik dan sosial yang telah dikonstruksikan.Motivasi suatu negara untuk bergabung dalam
institusi regional adalah untuk mendapat suara diplomatic yang kuat, karena secara teori dan
praktiknya negara akan lebih kuat ketika mereka tergabung dalam suatu kelompok dan mengatas
namakan kepentingannya atas dasar kepentingan kelompok.

Regionalisme di Eropa: Uni Eropa

Ada tiga jenis dari regionalisme:

  • Regionalisme ekonomi
  • Regionalisme Keamanan ; dan,
  • Regionalisme Politik

Contoh dari regionalisme ekonomi adalah BRICS (Brazil, Rusia, India, China and South
Africa) dimana mereka adalah kelompok negara yang secara kekeuatan ekonomi berada pada
level negara emerging. Regionalisme keamanan contohnya adalah NATO (North Atlantic Treaty
Organization) dan regionalisme politik bisa dilihat dari kelompok negara bangsa seperti Uni
Eropa.

Gagasan tentang Uni Eropa muncul sejak berakhirnya perang dunia kedua, bangsa bangsa eropa yang berperang setelah berpuluh puluh tahun akhirnya menyadari bahwa mereka membutuhkan faktor pengikat yang akan mencegah mereka dari peperangan,maka terbentuklah gagasan tentang ‘komunitas masyarakat eropa’ yang diprakarsai oleh Jerman,Belgia,Luxemburg,Prancis, Belanda dan Italia yang melahirkan European Coal and Steel Community (ECSC) yang kemudian terbentuklah pula European Economic Community (EEC), dan Euratom yang merupakan hasil perjanjian Brussels.Dimulai dari 6 negara anggota sekarang Uni Eropa memiliki 27 negara anggota.

Istilah uni eropa sendiri ditandai secara formal lewat Treaty Of Rome pada 1957, dimana Uni Eropa adalah organisasi pertama yang berdasarkan pada prinsip kesatuan (custom unions) dan beberapa aspek dari gagasan supranasional yang akhirnya mendorong ke dalam keberadaan konsep pasar tunggal. Uni Eropa telah melewati berbagai eksperimen dalam kerjasama supranasional yang melibatkan bidang politik dan keuangan. Proses penyatuan masyarakat eropa dimana hanya secara wilayah geografis menjadi unit politik dan ekonomi yang signifikan dan melayani sebagai dasar bagi kerjasama dan sebagai identitas ‘eropa’.

Dapat dilihat bagaimana Uni Eropa telah mempromosikan dan mengimplementasikan kesatuan regional, kesejahteraan koletif, bidang kebijakan umum dan kemajuan ekonomi dalam zona Uni Eropa melalui penciptaan lembaga pemerintahan seperti Parlemen Eropa, Dewan Eropa, Komisi Eropa dan sejenisnya. Secara ekonomipun EU telah memperkenalkan pasar tunggal dan penggunaan euro sebagai mata uang bersama melalui pembentukan Bank Sentral Eropa.

Pada umunya kekuatan politik negara dalam proses regionalisme dapat tergantikan oleh kekuatan politik dari sistem regional. Hal berbeda terjadi di EU dimana inggris sebagai ‘mother of Europe’ mempunyai posisi sendiri yang tidak ingin disamakan oleh sistem EU. Meskipun hal tersebut bukanlah merupakan alasan utama Inggris keluar dari EU namun bila kelompok regional lain yang notabene selalu mengikuti kesuksesan EU melakukan pemerataan sistem seperti itu dan ada negara yang tidak mau mengimplementasikannya maka itu akan menimbulkan masalah baru bagi integrasi.

Studi Kasus

Superioritas yang dimiliki Inggris menyebabkan regionalisme UE seringkali dipertanyakan, hingga pada klimaksnya inggris dan negara bagiannya menyatakan melakukan referendum untuk keluar dari Uni Eropa dan hasilnya adalah mayoritas warga Inggris meliputi Irlandia, Skotlandia dan Wales memilih untuk keluar dari EU. Alasan kuat Britania keluar dari EU adalah masalah hutang dan dependensi Uni Eropa yang sangat bergantung pada perekonomian inggris, dimana inggris harus terus menyuplai dana bagi keberadaan pengungsi di EU dan beban hutang Yunani yang makin memberatkan perekonomian inggris. Krisis utang mengenai Euro juga menyajikan tampilan yang nyata dari masalah yang terkait dengan regionalisme dan kebijakan fiskal dalam Uni Eropa maka wajar saja bila Inggris merasa terbebani dan memilih untuk keluar karena bila inggris keluar setidaknya inggris tidak memiliki kewajiban untuk menanggung hutang Yunani hanya untuk mencegah efek domino bila Yunani resmi menjadi negara gagal akibat hutang.

Jika Inggris tidak ingin mengimplementasikan kebijakan –kebijakan yang telah dirumuskan oleh Dewan EU lantas mengapa mereka memutuskan untuk masuk ke Uni Eropa? Ini tak lepas dari sejarah. Inggris, merekalah yang memperkenalkan demokrasi melalui piagam Magna Charta pada 1215 M, merekalah yang menjadi pelopor Revolusi Industri, dan seperti yang kita tahu Inggris merupakan negara imperialis penyebar bahasa yang paling berpengaruh di dunia setelah label gold, gospel, glory berkumandang di Eropa. Namun setelah Perang Dunia II, ekonomi Inggris porak poranda, mereka juga terkena serangan Nazi. Inggris yang tadinya merupakan negara dengan perekonomian yang kuat dan merupakan kreditur terbesar harus kehilangan pengaruhnya dalam perpolitikan dunia termasuk lepasnya negara jajahan India. Inggris di ujung dilema, mereka mau tak mau harus berbaur dengan negara Eropa lain karena jalan terbaik untuk mengembalikan perekonomian adalah dengan bekerjasama dan masuk dalam sistem. Sifat ekslusifitas Inggris semakin kuat dengan prinsip “we believe in a free Europe, not a standardized Europe” yang artinya adalah inggris menentang untuk berada dalam standarisasi yang sama dengan negara lain di Eropa.

Meskipun ide-ide dan praktek EU menyebar ke organisasi regional lainnya, tapi jarang mengakibatkan terjadinya praktek institusional yang sama atau bahkan sebanding dengan hasil yang didapat di EU. Ini memberikan limitasi tersendiri dari difusi regionalism Uni Eropa. Contoh kondisi material yang mempengaruhi penerimaan model Uni Eropa menyangkut integrasi ekonomi. Penciptaan tarif eksternal sebagai salah satu unsur dari pasar tunggal terhambat di berbagai institusi regional dikarenakan kebijakan bahwa negara anggota harus menurunkan tarifnya bahkan hingga mendekati nol, tentu saja terdapat negara yang tidak mau menyesuaikan diri dengan kebijakan tariff eksternal tsb. Di luar perbedaan struktur ,pembuat kebijakan di institusi regional lain cenderung lebih enggan daripada rekan-rekan mereka di Eropa untuk berbagi kedaulatan nasional, maka sulit bagi mereka untuk menyesuaikan dengan praktek yang terjadi di Uni Eropa. Bahkan, berbagai konsepsi kedaulatan nasional menjadi hambatan bagi difusi ide dan praktek Uni Eropa.

Kekuatan institusi regional seringkali membuat badan-badan regional kedua semakin inward-looking dan sarat dengan konflik. Hal ini jelas ditunjukkan oleh contoh integrasi Eropa, yang ditakdirkan untuk diikuti oleh regional lain, ini akan membuat jurang antara regionalisasi elit dan masyarakat umum yang berdampak pada semakin terpinggirkannya masyarakat umum yang masih menganut simbol nasional dan identitas. Pendirian European council,European commission, council of minister hingga European parliament menjadi bukti bahwa Uni Eropa melakukan penetrasi yang sangat dalam terhadap bidang politik di negara negara anggotanya dan hal ini tidak sepenuhnya baik. Memang tidak ada indikasi penggunaan paksaan dalam integrasi pada semua aspek di masyarakat Uni Eropa namun hal inilah yang menyebabkan munculnya “country privillage” di Uni Eropa dimana Inggris menjadi aktor yang mendapatkan “privillage” tersebut.

Suatu negara bila sudah bergabung dengan institusi regional akan memiliki andil yang sama bagi negara anggota lainnya, namun karena inggris memiliki peranan yang besar di Uni Eropa maka keluarnya inggris akan menjadi ketakutan sendiri pada Uni Eropa dan dunia karena selain Eropa masih dilanda krisis finansial dan ditakutkan negara lain akan mengikuti jejak Inggris akibat ketidakpuasan terhadap UE. Selain memberi warna baru pada regionalisme. Kepergian Inggris ini juga menimbulkan ketidakpastian dalam internal EU, seperti dalam masalah pengungsi Eropa dan juga terutama kerjasama perekonomian karena banyak negara yang bergantung akan perekonomian EU.

Kesimpulan

Uni (bentuk terikat) tidak lagi hanya sebuah asosiasi regional. Ini adalah pandangan dari masa depan, keadaan dalam banyak hal meskipun juga tunduk kepada inisiatif anggota, pembangkit tenaga listrik ekonomi dunia dan rumah bagi kebijakan umum dilembagakan. Uni tidak lagi hanya badan eksternal, namun ekspresi konkret dari persatuan Eropa dan setidaknya, sebagai bukti dari cita-cita Eropa yang menginginkan adanya kesatuan setelah berakhirnya Perang Dunia Pertama dan Kedua. Memang, Uni Eropa adalah asosiasi regional seperti yang lain, namun karena Uni Eropa juga merupakan tinggak berdirinya institusi regionalism. Uni Eropa setelah BREXIT telah mengubah wajah regionalisme. Apakah regionalisme akan menjadi isu dominan di tahun tahun berikutnya atau kah tidak, itu sangat sulit untuk diprediksi karena di dalam regionalism itu sendiri memunculkan isu-isu dominan baru dari ekonomi, perdagangan, perubahan iklim, krisis pengungsi, bahkan dimensi lain dari regionalisme.

Bila inggris tidak mau mengikuti Euro Zone dan menggunakan Euro sebagai mata uang negaranya lalu mengapa inggris bergabung dengan Uni Eropa sejak awal? Bukan kah itu berarti Inggris melukai makna dari regionalism itu sendiri? Lalu masih relevankah regionalisme setelah terjadi kasus keluarnya negara dari sebuah institusi regional? Jawabannya adalah YA. Secara teoritis memang inggris tidak tunduk pada sistem regionalisme Uni Eropa namun hal ini juga dibenarkan karena keikutsertaan ataupun penarikan diri atau ketidakikutsertaan suatu negara dalam suatu insitusi regional tidaklah semudah itu, masih ada beberapa proses yang harus dilalui Inggris sebelum akhirnya Dewan Eropa memutuskan untuk membiarkan Inggris keluar dari EU. Dan keluarnya inggrispun tidak serta membuat kredibiltas EU turun karena dilihat dari sejarah dan karakteristik masyarakat Inggris bahwa memang perasaan superioritas lah yang membuat Inggris sulit untuk sulit terintegrasi secara penuh dengan EU.

Reference

External Influences on Regionalism: Studying EU Diffusion and Its Limits

The European Union: Changing the Face of Regionalism

http://tara-wardhani-fisip14.web.unair.ac.id/artikel_detail-144374-SOH213%20(Dinamika%20Hubungan%20Internasional%20Kawasan)-Transformasi%20Regionalisme%20Lama%20Menuju%20Regionalisme%20Baru.html

Perfect Complements: Is Regionalism the Way Forward for Europe?

Mattli, W. (1999). The Logic of Regional Integration: Europe and Beyond. Cambridge, Cambridge University Press.

Pierson, P. (1996). The Path to European integration: A Historical Institutionalist Analysis. Comparative Political Studies 29(2): 123-163

S, Nuraeini , Silvya , Deasy, Sudirman, 2010 ,Regionalisme, Bima Bayu Atijah : Yogyakarta.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

shop giày nữthời trang f5Responsive WordPress Themenha cap 4 nong thongiay cao gotgiay nu 2015mau biet thu deptoc dephouse beautifulgiay the thao nugiay luoi nutạp chí phụ nữhardware resourcesshop giày lườithời trang nam hàn quốcgiày hàn quốcgiày nam 2015shop giày onlineáo sơ mi hàn quốcf5 fashionshop thời trang nam nữdiễn đàn người tiêu dùngdiễn đàn thời trang